DUNIA

Berbagi Pengalaman dari Indonesia Untuk Menebar Inspirasi di Melbourne

Senin, 24 Agustus 2015 | 12:35 WIB

Bincang Merdeka sukses digelar hari Sabtu malam (22/08/2015) di Melbourne Recital Centre, Australia, dengan membahas peluang-peluang berkarir dan berkarya di Indonesia, serta apa yang menjadi tantangannya. Lewat acaranya diharapkan mahasiswa Indonesia mempersiapkan diri untuk kembali ke Tanah Air.

Bincang Merdeka digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) negara bagian Victoria dengan menghadirkan sejumlah tokoh-tokoh yang telah berkiprah di Indonesia.

Para tokoh yang dihadirkan di Indonesia adalah Ken Dean Lawadinata, CEO dari Kaskus Indonesia serta Rosiana Silalahi, Direktur Pemberitaan Kompas TV.

Sementara pembicara yang berbasis di Australia adalah Bagus Nugroho, doktor lulusan University of Melbourne di bidang teknik dan sains; Wellix Halim, salah satu direktur di freelance.com, perusahaan freelancing terbesar di dunia.

Acara yang dipandu dengan Marissa Anita dari Net TV berlangsung selama hampir dua jam.

(Kiri ke Kanan) Rosiana Silalahi, Ken Lawadinata, Bagus Nugroho, Willix Halim, dan Marisa Anita. Foto: Erwin Renaldi
(Kiri ke Kanan) Rosiana Silalahi, Ken Lawadinata, Bagus Nugroho, Willix Halim, dan Marisa Anita. Foto: Erwin Renaldi

 

"Tujuan dari perbincangan ini adalah mengajak agar mahasiswa Indonesia di Australia tidak takut untuk pulang, setelah kuliah mereka selesai," ujar Mutiasari Handling, Ketua PPIA Pusat dan Victoria.

Menurutnya lewat ajang ini, para mahasiswa tidak harus menunggu sampai lulus, tetapi bisa mempersiapkan diri sejak sebelumnya. Salah satu persiapan yang biasa dilakukan oleh para mahasiswa adalah membaca situasi dan peluang yang ada.

Menurut Rosianna Silalahi, Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang paling liberal, dilihat dari kebebasan media dan berkespresinya. Terbuktinya kini sudah ada 11 saluran televisi yang mengudara secara nasional, menjadi yang terbanyak dibandingkan negara lainnya.

"Demand, atau permintaan televisi sangat banyak. Tapi sayang, supply masih sangat sedikit. Karenanya 'pembajakkan' karyawan dari saluran TV ke TV lain seringkali terjadi," ujar Rosianna Silalahi yang sebelumnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV.

Menurutnya perlu banyak persiapan yang harus dilakukan jika seseorang memutuskan ingin bekerja sebagai jurnalis atau di industri media di Indonesia.

"Industri media memiliki kultur penuh tekanan, tapi kebanyakan anak-anak muda memiliki salah paradigma, karena hanya ingin nge-top saja. Padahal menjadi terkenal adalah bonus pekerjaan," jelas Rosianna yang telah memenangkan sejumlah penghargaan di bidang jurnalistik pertelevisian.

Menurutnya, bekerja di jurnalis tidak harus selalu berasal dari lulusan ilmu komunikasi atau media. Karena dunia pertelevisian adalah dunia yang dinamis dan mencakup segala aspek kehidupan, sehingga yang diperlukan adalah tekad dan keberanian besar.

"Saya sendiri lulusan Fakultas Sastra Jepang, malah tidak lulus saat memilih Ilmu Komunikasi. Meski sempat sedih, tapi saya berjanji terhadap diri sendiri untuk menjadi yang terbaik di bidang media atau komunikasi," kata Rosianna.

Sementara itu Ken Dean Lawadinata sebagai pendiri situs Kaskus menjelaskan soal kondisi dunia digital di Indonesia. Menurutnya televisi masih memegang bagian yang besar untuk periklanan.

"Periklanan di dunia digital memang semakin kuat, tetapi volumenya masih rendah [jika dibandingkan televisi]," jelas Ken yang lebih memilih membangun bisnis digitalnya, ketimbang meneruskan bisnis keluarganya.

Bagi Ken, kunci utama kesuksesan di dunia digital, atau dunia bisnis lainnya adalah perlu adanya upaya untuk membuat permintaan di pasar.

Setelah Kaskus, kini Ken juga telah membuat situs serupa dengan pangsa pasar khusus untuk ibu-ibu dan wanita.

"Kita harus melihat apa yang menjadi masalah tiap-tiap kelompok warga, kemudian barulah kita mencoba menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi," jelas Ken.

Willix Halim yang sama-sama bekerja di industri digital pun memiliki pandangan yang sama.

Tetapi menurut pria, yang masih berusia 27 tahun tapi telah menduduki posisi wakil presiden Freelancer.com ini, sebagai pengusaha harus ada tiga hal yang diperhatikan. Yakni berfokus pada orang, produk, atau pasarnya.

Ia juga menepis anggapan kalau untuk memulai usaha membutuhkan uang yang banyak, atau kesuksesan hanya dimiliki oleh anak-anak orang kaya.

"Jika memang benar anggapan tersebut, mengapa anak dari Bill Gates tidak tercatat sebagai salah satu orang paling kaya sekarang?" tanya Willix yang lulusan University of Melbourne dan Stanford University.

"Kesuksesan itu memang bisa karena uang, pendidikan, dan jaringan pertemanan. Tapi merupakan gabungan dua diantara ketiganya, bukan dikarenakan satu faktor saja." jelas Willix yang sudah beberapa kali memberikan ceramah di saluran televisi bisnis CNBC dan Bloomberg TV.

Willix pun memberikan tips bagi para mahasiswa yang ingin membuka bisnis sendiri, bahwa kegagalan adalah hal yang biasa.

"Kalau gagal, lebih baik gagal secara cepat, tetapi kemudian bangkit dengan lebih segera," jelas Willix.

Suasana Bincang Merdeka. Foto: Erwin Renaldi.
Suasana Bincang Merdeka. Foto: Erwin Renaldi.

 

Dari bidang pendidikan, peneliti Bagus Nugroho sempat menceritakan bagaimana dirinya dulu pernah memiliki nilai evaluasi akhir belajar yang merupakan ketiga terbawah dari sekolahnya.

Menurut Bagus, tidak masalah dengan ilmu yang dipelajari, yang terpenting adalah memiliki kemampuan.

"Karena pada akhirnya adalah bagaimana menerapkan ilmu ke dalam kemampuan dalam dunia bekerja sebenarnya," jelas Bagus.

Bagus kini telah mendapatkan proyek penelitian di Indonesia, dengan melibatkan Australia dan Inggris.Penelitiannya nanti berkaitan dengan beban kapal dan pengaruhnya dengan konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan.

Penelitiannya Bagus dianggap sejalan dengan salah satu visi dan misi Indonesia saat ini, yakni untuk memperkuat kondisi maritim dan kelautan Indonesia.

"Jadi yang terpenting kalau sedang sekolah adalah mencari supervisor atau dosen pembimbing yang terbaik di bidangnya, karena dari sanalah kita akan mulai mendapatkan ide-ide," ujarnya. 

Acara Bincang Merdeka sebenarnya telah mengundang Menteri Pendidikan Anies Baswedan untuk hadir, namun beliau berhalangan hadir.

TUTUP