DUNIA

Menlu Singapura: Asap RI Masalah Global

Saat Indeks Standar Polusi di Singapura 100, Indonesia sudah mencapai 200 atau 300.
Rabu, 24 November 2010
Oleh : Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
Fog covers Pekanbaru, Riau

VIVAnews - Singapura menilai bahwa kabut asap dari kebakaran hutan di Sumatera, yang terus terjadi, tidak saja merupakan isu lokal dan regional, melainkan memiliki dimensi global. Maka, sebagai negara tetangga, Singapura turut berkepentingan membantu Indonesia mengatasi masalah asap.

"Asap ini bukan hanya isu lokal atau regional. Ini juga memiliki dimensi global," kata George Yeo, Menteri Luar Negeri Singapura, saat menjawab pertanyaan parlemen Singapura pada Senin, 22 November 2010.

Yeo menanggapi sejumlah pertanyaan dari beberapa anggota parlemen Singapura, yang mengeluh mengapa masalah asap dari Indonesia hampir setiap tahun terus mengganggu Singapura. Oktober lalu asap juga menyelimuti Singapura selama beberapa hari akibat kebakaran hutan di Sumatera.

Namun, Yeo mengingatkan bahwa masalah asap akibat kebakaran hutan ini tidak saja mengusik Singapura, namun juga tetangga lain seperti Malaysia dan Indonesia sendiri. Bahkan, Indonesia menderita dampak paling besar dari masalah itu. Saat Indeks Standar Polusi (PSI) di Singapura mencapai 100, Indonesia sudah mencapai 200 atau 300.

"Jadi, pihak yang paling berkepentingan atas masalah asap itu adalah Indonesia sendiri karena jutaan orang di sana terkena dampaknya," kata Yeo, dalam transkrip tanya jawab dengan anggota parlemen yang dipublikasikan oleh Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. 

Maka, dia melanjutkan, Singapura dan Malaysia saat ini telah bekerjasama dengan pemerintah Jambi dan Riau di Indonesia dalam program pencegahan kebakaran hutan dan asap. “Usaha ini membantu mengurangi masalah asap dalam tiga tahun belakangan. Namun berdasarkan pengalaman tahun ini, usaha lebih keras diperlukan,” ujarnya.
 
Untuk itu, Yeo menyatakan terima kasih kepada Menlu Indonesia, Marty Natalegawa, atas pengertiannya . “Saya berterima kasih kepada Pak Marty atas kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia, mengingat kabut asap tidak mengenal batas-batas negara, maka penting sekali bagi negara-negara sekawasan untuk terus bekerjasama menangani isu ini,” ujar Yeo seperti yang dilaporkan oleh Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia di Jakarta.

Penurunan emisi gas buang akibat penggundulan hutan adalah unsur penting dalam pengurangan dampak perubahan iklim yang tertuang dalam Bali Action Plan. Indonesia, kaat Yeo,  memiliki peran yang besar dalam penanggulangan kebakaran hutan. Dia menjelaskan bahwa Indonesia telah menandatangani berbagai kesepakatan untuk mengatasi permasalahan emisi gas buang.

“Contohnya adalah kesepakatan bilateral senilai satu miliar dolar antara Indonesia dan Norwegia,” ujarnya. Pada level yang lebih luas, ujar Yeo, Indonesia juga telah mengumumkan target pengurangan emisi gas buang hingga 26 persen pada tahun 2020.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found