TUTUP
TUTUP
DUNIA

AS Didesak Perketat Jual Beli Senjata Api

Penembakan brutal marak terjadi di AS, salah satunya melukai anggota DPR
AS Didesak Perketat Jual Beli Senjata Api
Ilustrasi pelaku penembakan (AP Photo)

VIVAnews - Walikota New York, Michael Bloomberg, meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk memperketat aturan jual beli senjata api, menyusul maraknya kekerasan bersenjata di kalangan warga sipil belakangan ini. Presiden Barack Obama juga diharapkan mengangkat masalah saat melakukan pidato tahunan.

“Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, setiap penjualan senjata api harus melalui pemeriksaan latar belakang pembeli,” ujar Bloomberg seperti dilansir dari stasiun televisi CNN, Senin 24 Januari 2011.

Dalam menyampaikan pernyataannya ini, Bloomberg didampingi oleh anak tertua aktivis HAM Martin Luther King yang tewas tertembak pada tahun 1968, dan para anggota keluarga 34 orang yang tewas tertembak di AS.

Kekerasan bersenjata marak terjadi di Amerika Serikat. Peristiwa terakhir yang mengundang perhatian seluruh negeri adalah penembakan brutal di Tucson, Arizona, yang menewaskan enam orang dan melukai belasan lainnya. Anggota DPR AS, Gabrielle Giffords juga ikut tertembak di kepalanya. Dilaporkan, keadaannya saat ini mulai membaik.

Bloomberg berharap isu memperketat undang-undang kepemilikan senjata dan penegakan hukum dapat dimasukkan dalam salah satu agenda prioritas Obama pada pidato kenegaraan tahunan di Gedung Kongres pada Selasa, 25 Januari 2011 waktu Washington DC. 

Pidato tahunan kenegaraan adalah pidato yang dibacakan Presiden Amerika Serikat di parlemen menjelang sesi bersama kongres AS. Pada pidatonya, presiden tidak hanya mengumumkan kondisi terbaru AS, namun juga menjelaskan agenda legislatifnya dan prioritas nasionalnya kepada kongres.

“Negara kita masih berduka akibat penembakan di Tucson, Kami yakin ini adalah kesempatan baik bagi presiden kita untuk membuat janji yang kuat dalam memperbaiki hukum kepemilikan senjata dan membenahi sistem pelacakan latar belakang kita,” ujar Bloomberg.

Bloomberg menyalahkan banyaknya kekerasan bersenjata saat ini akibat longgarnya peraturan dan banyaknya celah dalam undang-undang kepemilikan senjata. Hal ini memungkinkan siapa saja dapat memiliki senjata api tanpa perlu menjalani pemeriksaan latar belakang seseorang.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP