DUNIA

Situasi Libya Memburuk, KBRI Dipindahkan

Namun beberapa staf masih berada di KBRI untuk mengawasi warga negara Indonesia (WNI).
Selasa, 22 Maret 2011
Oleh : Denny Armandhanu
Marty Natalegawa

 

VIVAnews - Situasi keamanan di Libya yang memburuk pada gejolak politik menentang pemerintahan Muammar Khadafi membuat berbagai negara menutup kedutaan besarnya di Tripoli. Pemerintah Indonesia juga dilaporkan sudah mulai memindahkan KBRI dari Libya ke negara lain.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, pada Selasa, 22 Maret 2011, mengatakan bahwa pemindahan seluruh staf KBRI dari Tripoli menuju Tunis, Tunisia, dilakukan kemarin, Senin, 21 Maret 2011. Namun beberapa staf masih berada di KBRI untuk mengawasi warga negara Indonesia (WNI). 

"Masih ada empat orang staf di KBRI yang tinggal selama proses transisi. Kita ingin memastikan tidak ada warga negara Indonesia yang masih tertinggal di sana," ujar Natalegawa.

Selain mendata WNI yang masih tinggal, para staf yang tinggal juga bertugas untuk memastikan keselamatan para awak media dari Indonesia yang meliput di lokasi. Tidak disebutkan berapa jumlah WNI yang masih tinggal di sana, namun Natalegawa mengatakan bahwa proses evakuasi masih berjalan secara optimal.

"Evakuasi sudah optimal, terakhir 20 warga Indonesia dievakuasi dari Tripoli. (Terdiri dari) 11 WNI dan 9 dari KBRI," ujar Natalegawa lagi.

KBRI adalah salah satu dari perwakilan asing yang masih menempatkan stafnya di negara tersebut. Umumnya, berbagai perwakilan negara di Tripoli sudah tutup dan para staf pulang ke negaranya.

Natalegawa mengatakan, dari ASEAN hanya tinggal Indonesia dan Filipina yang masih membuka kantornya. Hal ini demi memastikan keselamatan warga negara.

"Sekarang kita sedang dalam fase pengosongan kantor KBRI di Tripoli, namun fungsinya dilakukan dari Tunis," ujar Natalegawa.

Sementara itu, kata Natalegawa, pemerintah terus memantau situasi di berbagai wilayah di kawasan yang juga mulai bergejolak, salah satunya adalah Yaman. Namun, Proses evakuasi WNI di negara ini baru akan dilakukan jika situasi dirasa membahayakan.

"Di Yaman sudah ada contingency plan, tapi hingga saat ini masih belum bisa dilaksanakan karena situasi masih relatif kondusif. Semua negara di kawasan tersebut, kita sudah punya contingency plannya," jelas Natalegawa. (sj)

 

TERKAIT
    TERPOPULER
    File Not Found