DUNIA

Hukuman Butakan Mata di Iran Ditunda

Diduga hukuman ditunda karena banyaknya protes yang menentang hukuman tersebut.

ddd
Minggu, 15 Mei 2011, 16:27
Wajah Ameneh Bahrami sebelum dan sesudah disiram cairan asam
Wajah Ameneh Bahrami sebelum dan sesudah disiram cairan asam (news.sky.com)

VIVAnews - Seorang lelaki di Iran akan dibutakan kedua matanya sebagai balasan telah membutakan mata seorang wanita. Namun, rencana tersebut tertunda karena banyaknya protes yang menentang hukuman ini.

Dilansir dari laman Asian News Internasional, lelaki bernama Majid Movahedi rencananya akan dibutakan matanya oleh Ameneh Bahrami, 32, pada Sabtu, 14 Mei 2011, di bawah pengawasan pengadilan Iran. Bahrami akan menyuntikkan 20 tetes cairan asam ke dalam mata Mohavedi hingga dia buta sebagai bentuk hukuman qishash.

Hukuman ini diberikan kepada Movahedi setelah dia terbukti bersalah telah menyiramkan cairan asam ke wajah Bahrami pada 2004 lalu lantaran lamarannya ditolak. Akibat tindakan ini, mata Bahrami menjadi buta dan seluruh wajahnya hancur. Untuk menyembuhkan luka-lukanya, Bahrami harus menjalani 19 kali operasi di Spanyol.

Tidak terima diperlakukan demikian, Bahrami menuntut  diberlakukannya hukuman qishash atas Movahedi. Akhirnya, pada 2008, pengadilan Iran mengabulkan permintaan Bahrami.

Pengadilan Iran memberikan kesempatan bagi Bahrami untuk mengubah hukuman tersebut. Namun dia bergeming, tetap pada pendiriannya semula. "Saya dengan tegas tetap akan melakukan qishash. Saya mau qishash, dengan begitu saya akan ikhlas," ujarnya.

Rencananya hukuman ini akan dilangsungkan pada Sabtu sore. Namun menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, hukuman ini ditunda oleh pengadilan Iran. "Hukuman Qishash Movahedi telah ditunda untuk jangka waktu yang tidak diketahui," ujar sumber dilansir dari kantor berita ISNA.

Tidak ada keterangan jelas mengapa hukuman tersebut ditunda. Menurut laman Daily Mail penundaan terjadi akibat banyaknya protes dan kritik baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu organisasi yang menentang hal ini adalah Amnesty International.

Hassiba Hadj Sahraoui, wakil direktur Amnesty International Program Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan bahwa pemerintah Iran memiliki kewajiban di bawah hukum internasional untuk tidak melakukan hal tersebut.

"Terlepas dari penderitaan yang diterima oleh Ameneg Bahrami, hukuman dibutakan matanya dengan asam adalah siksaan yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan," ujar Sahroui. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
Fadhlan
30/08/2011
Walaupun gw bukan Muslim Taat.. dan juga bukan yg Idealis.. tp gw setuju, jk Allah tlh tetapkan adanya hak Qishos.. maka itulah "keadilan"...
Balas   • Laporkan
maulana muhammad adam al hafidz
30/08/2011
astagfirullah al adzim
Balas   • Laporkan
Deasys
30/08/2011
Ini lah bukti Hukum di dunia itu lemah. Hukum Qishash adalah hukum yang sangat pantas diterapkan di dunia sekarang ini. Biar para kriminal mikir 100x sblum berbuat kejahatan.
Balas   • Laporkan
ari
30/08/2011
kayakx pantas hukuman i2
Balas   • Laporkan
aldi damanik
30/08/2011
Tergantung dengan hukum negaranya
Balas   • Laporkan
Joko Prihatin
30/08/2011
Ini pelajaran bagi kita agr jgn menyakiti orang lain..Qt jgn smpe mykiti orng lain klo tak mw disakiti. Aq dpt mmahi perasaan bahrami yg khlngn pnglhtn seumur hdpnya. Jdkn ini pljrn bg qt agr brhati2 dlm mlakukan tindakan/berpikir terlebih dahulu/
Balas   • Laporkan
arya
30/08/2011
sy setuju dngan hukuman yg diberikan si tersangka..coba bayangkan klo anda ada diposisi sikorban.
Balas   • Laporkan
ajie
30/08/2011
sebelum anda mengkritik.. berjalanlah sambil pejamkan mata anda 5 menit saja...rasakan sebentar apa itu buta... lalu baru setelah itu anda berkomentar... bagaimana jika si korban adalah keluarga atau orangtua anda...
Balas   • Laporkan
1432
22/08/2011
manusia hanya menjalanka hukum tuhan
Balas   • Laporkan
1432
22/08/2011
manusia hanya menjalanka hukum tuhan
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id