DUNIA

Israel Berambisi Bangun Lembah Silikon Baru

Negara Zionis itu memiliki populasi insinyur terbanyak di dunia.
Kamis, 30 Juni 2011
Oleh : Renne R.A Kawilarang, Indrani Putri
Kantor pusat Google di Lembah Silikon, California, AS

VIVAnews - Israel mulai berambisi untuk turut berkiprah dalam dunia teknologi. Maka pemerintah Negara Zionis itu bertekad membangun "Lembah Silikon" baru. Itu merupakan julukan bagi suatu kawasan di California, AS, yang selama ini menjadi pusat industri teknologi global. 

Sebagaimana dilansir laman harian Inquirer, industri internet telah menyumbang 9 miliar euro (setara kurang lebih Rp. 111 trilyun) bagi perekonomian Israel pada 2009. Berdasarkan laporan dari konsultan manajemen McKinsey, jumlah tersebut sebesar 6,5 persen dari pendapatan kotor negara tersebut. Jumlah ini lebih besar dari industri kontruksi (sebesar 5,4 persen) dan hampir sebanyak sektor kesehatan (6,8 persen).

Pertumbuhan ekonomi dari ranah web ini telah membuka 120 ribu lapangan kerja baru, yang menyerap empat persen dari keseluruhan tenaga kerja di Israel. Raksasa internet mulai dari Intel, Microsoft, Google, dan IBM telah menyiapkan penelitian penting serta pengembangan jarinagn teknologi di negara ini.

"Israel adalah negara dengan populasi insinyur terbanyak di dunia, dan nomor dua setelah Amerika Serikat dalam jumlah perusahaan yang terdaftar dalam Nasdaq," kata David Kadouch, manajer produk pada Google Israel, yang membuka operasi litbang pada 2007 dan memiliki 200 karyawan.

"Negara ini benar-benar Silicon Valley kedua. Selain perusahaan multinasional, perusahaan raksasa Amerika juga turut punya andil dalam ikut mengembangkannya. Komunitas ilmiah disini sangat aktif, begitu banyak tenaga kerja, dan utamanya suasana kewirausahaan. Ada sebuah ekosistem besar di sebuah bidang teknologi, dan apa yang mendasar disini adalah bahwa kita berpikir global."

Sedikitnya 500 pelaku usaha baru (start-up) muncul setiap tahun di Israel, negara berpenduduk 7,7 juta jiwa dan tahun lalu memiliki pertumbuhan ekonomi 4,7 persen berdasarkan data Organisasi Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi. Pertumbuhan start-up di Israel pada tahun ini diperkirakan mencapai 5,4 persen.

Institusi pendidikan tinggi Israel, khususnya Technion, kampus teknologi bergengsi di kota Haifa, harus mengambil bagian besar dari kredit untuk kreativitas ini.

"Semua perusahaan menyiapkan anak perusahaan disini karena Technion dikenal atas sebagai tempat orang-orang dengan CV yang hebat," kata Yoel Maarek, direktur Yahoo Research Israel, yang memperkerjakan 50 karyawan.

Maarek sendiri pernah belajar di teknik konstruksi jembatan di Prancis, namun akhirnya direkrut IBM justru karena ijazah Technion yang dimilikinya.

"Pada awal 2000an, kami meruntuhkan pembatas antara empat cabang pengetahuan, supaya para siswa untuk lebih fleksibel dan memiliki visi yang lebih global," kata Ilan Marek, profesor kimia di Technion. "Kunci pembangunan negara adalah melatih para pemimpin dalam bidang ilmu pengetahuan."

Saul Singer, salah satu penulis "Start-up Bangsa: Kisah Keajaiban Ekonomi Israel," percaya sifat kebanyakan orang Israel yang tidak konvensional juga turut berperan. "Kurangnya respek terhadap otoritas sudah tipikal orang Israel, itu merupakan budaya, sejalan dengan penciptaan start-up. Tak ada otoritas, usaha ini juga bersifat informal.

Hanya ada dua faktor, dorongan dan tekad, serta mengambil resiko. Kami memiliki bentuk usaha yang sangat menarik," kata Singer.

Akhirnya, masih menurut Singer, "Kami masih terus bergulat dengan berbagai kesulitan yang ada di Israel. Namun, kesulitan adalah sumber penciptaan dan energi. Israel adalah sebuah negara dengan tujuan dan misi." (eh)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found