DUNIA

Mogok Kerja Nasional di Prancis

Aksi mogok berlangsung selama 36 jam, mulai Kamis pukul 8 hingga Jumat pukul 20

ddd
Kamis, 29 Januari 2009, 17:11
 
  (AP Photo/Arni Torfason)

VIVAnews - Jutaan orang terpaksa jalan kaki atau naik sepeda. Sedangkan jutaan murid hanya bisa bengong di sekolah tanpa diajar oleh guru. Itu adalah efek aksi mogok nasional yang dilakukan para pekerja di penjuru Prancis mulai Kamis pagi 29 Januari 2009 waktu setempat (Kamis sore WIB).

Para aktivis serikat buruh menamakan aksi mereka sebagai "Kamis Hitam" dan berlangsung di 200 kecamatan di penjuru Prancis. Menurut stasiun televisi CNN, aksi mogok berlangsung selama 36 jam, mulai Kamis pukul 8 hingga Jumat pukul 20 waktu setempat.

Salah satu serikat buruh terbesar di Prancis, CGT, mengungkapkan aksi besar-besaran akan berlangsung di Paris Kamis siang waktu setempat (Kamis malam WIB).
 
Banyak bank tutup dan para pekerja di pabrik-pabrik yang telah menerapkan pemutusan hubungan kerja, juga ikut berdemo. Bahkan maskapai Air France mengungkapkan bahwa gara-gara mogok nasional, 30 persen dari layanan penerbangan jarak pendek terpaksa ditangguhkan. 

Para peserta mogok terdiri dari guru, pegawai kantor pos, staf rumah sakit, pekerja layanan kereta api, dan lain-lain. Mereka rupanya sudah resah dengan krisis ekonomi global yang mulai melanda Prancis, namun pemerintah seolah-olah masih tak peduli.

Ini merupakan aksi mogok kerja nasional yang terjadi di sebuah negara maju seperti Prancis dengan mengusung tema krisis ekonomi global. Kendati demikian, aksi mogok ini tidak akan sampai mengancam pemerintahan Presiden Nicolas Sarkozy.
 
Sampai kini Prancis tidak mengalami krisis ekonomi seberat tetangga-tetangganya, seperti Spanyol dan Inggris. Namun, tingkat pengangguran di Negeri Anggur tersebut meningkat pesat. Pada November 2008 terdapat 2,07 juta penganggur atau naik 8,5 persen dari periode yang sama tahun lalu. 
 
Sebenarnya, Sarkozy akhir tahun lalu mengeluarkan paket stimulus ekonomi dengan dana hingga 26 miliar euro. Dana itu ditujukan untuk mendongkrak investasi dan melindungi industri-industri besar.

Namun sebagian rakyat masih merasa tidak puas. Mereka menuntut pemerintah mengikuti langkah Inggris, yang juga memberikan bantuan bagi konsumen. (AP)

 




© VIVA.co.id
BERITA TERKAIT
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com