DUNIA

Mohammad Reza Adenan

Mengenalkan Demokrasi Indonesia kepada Dunia

Dalam Bali Democracy Forum, Indonesia memperkenalkan demokrasi yang pluralis dan inklusif

ddd
Jum'at, 2 Desember 2011, 14:38
Mohammad Reza Adenan
Mohammad Reza Adenan (Dokumentasi Pribadi)

VIVAnews - Indonesia akan menggelar Bali Democracy Forum yang keempat pada tanggal 8-9 Desember 2011, dengan mengundang 54 negara peserta dan 66 pengamat. Selama empat kali penyelenggaraannya Bali Democracy Forum telah mampu meningkatkan perannya sebagai pusat arsitektur demokrasi kawasan.

Dalam forum antar pemerintah tersebut  negara-negara di kawasan dapat membicarakan demokrasi secara konstruktif terlepas dari political taboo dan  stardarisasi yang restriktif. Tingkat akseptabilitas dan animo yang tinggi dari negara-negara peserta dan pengamat disebabkan karena prinsip Bali Democracy.

Forum yang inklusif namun konstruktif, yaitu menempatkan semua negara peserta dalam posisi ‘unik’ dan melalui sharing experience dan best practices dapat  menggali mekanisme demokrasi sesuai dengan kondisi masing-masing negara.

Terlepas dari masih banyaknya kritik adanya kekurangan atau flaws dari demokrasi di Indonesia, perlu di garis bawahi bahwa apocalyptic view yang meramalkan mengenai ‘Balkanisasi Indonesia’ dan kegagalan berdemokrasi terbukti salah, pandangan yang menyangsikan kemampuan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan multikulturisme bangsa, terbukti tidak benar.

Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pemahaman para kritikus terhadap kondisi bahwa pada kenyataannya pola pikir, budaya dan nilai luhur masyarakat Nusantara mampu menerima pemikiran-pemikiran progresif dengan mempertahankan pluralisme yang bersifat inklusif sebagai pilar penopang rasa ke-Indonesiaan yang unik dan kokoh.

Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan bukti empiris dari tingginya nilai-nilai luhur sejarah Nusantara, dan bahwa nilai-nilai tersebut memiliki sifat home-grown, karena sebuah Negara dengan penududuk mayoritas Muslim mampu beradaptasi dan menganut dasar filosofis Negara berlatar belakang epik Hindu-Budha.

Pluralisme, demokrasi dan inklusifitas merupakan nilai yang tidak dapat dipisahkan selama perjalanan sejarah Nusantara dan Indonesia kontemporer, hal tersebut merupakan inherent wisdom dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Indonesia.

Dalam artikel nya berjudul Democratic Response (2002) Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan mantan Menteri Luar Negeri Dr. Nur Hassan Wirajuda menyatakan bahwa konflik dan ketidak-stabilan politik berakar dari satu permasalahan yaitu imbalance in human relationships. Demokrasi merupakan proses dari dalam menemukan keseimbangan tersebut kembali.

Indonesia telah melewati masa-masa menentukan dalam proses pematangan dan pemajuan berdemokrasi. Untuk terus mendukung terciptanya serta tumbuh dan berkembangnya demokrasi di tataran nasional, Indonesia membutuhkan stabilitas kawasan, dengan terus mendukung berbagai upaya dan inisiatif dalam menciptakan komunitas demokrasi di kawasan.

Meminjam istilah Menteri Luar Negeri R.M Marty Natalegawa, pembangunan demokrasi di kawasan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk “aggressively waging peace”. Indonesia secara konsisten telah mendukung upaya tersebut hal ini tercermin sejak Indonesia memasukkan elemen demokrasi dan HAM dalam ASEAN Political and Security Community Plans of Action tahun 2003.

Upaya Indonesia ini pun dapat dipandang cukup sukses, di antaranya dengan mempertimbangkan bahwa kondisi penegakan HAM di Myanmar berkembang ke arah lebih baik dalam masa Indonesia sebagai Ketua ASEAN.

Berbagi Pengalaman

Satu dekade setelah reformasi atau tepatnya pada tahun 2008, dalam rangka untuk memperkuat realisasi dari antisipasi agar terbentuknya tata bangun demokrasi (democratic architecture) yang kokoh di kawasan, Indonesia memprakarsai penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF).

Dalam kaitan itu, Indonesia berpandangan bahwa sudah menjadi suatu kebutuhan untuk membentuk sebuah forum regional mengenai demokrasi yang dapat berkontribusi pada pengembangan dan intensifikasi dialog serta meningkatkan saling-pengertian dan menghargai di antara bangsa-bangsa di Asia.

Dalam jangka panjangnya, forum tersebut diharapkan dapat berkontribusi pada penciptaan  stabilitas dan perdamaian dunia. Berbeda dengan inisiatif mengenai demokrasi lainnya Bali Democracy Forum merupakan platform untuk experience sharing bukan preaching dan untuk berbagi best practices bukan penerapan standarisasi mengenai demokrasi.

Selain itu Bali Democracy Forum merefleksikan nilai-nilai demokrasi Nusantara yaitu: (1) Bahwa demokrasi harus tumbuh dan berkembang atas inisiatif domestik (faktor internal) setiap negara dan tidak dipaksakan dari luar (home-grown); (2) Demokrasi menjunjung nilai-nilai pluralisme dan keberagaman; dan (3) Demokrasi bersifat inklusif, dalam hal ini pengertian demokrasi harus bersifat luas dan terbuka dan bahwa setiap negara dapat berpatisipasi dan berkontribusi untuk berbagi perkembangan demokrasi di negara nya masing.

Bali Democracy Forum merefleksikan keberhasilan Indonesia dalam merajut tata bangun demokrasi dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan di sebuah kawasan yang dulunya dikenal tidak demokratis. Selain itu forum tersebut juga mampu mencapai konsensus agar demokrasi menjadi agenda strategis untuk Asia dalam mewujudkan perdamaian dan stabilitas kawasan.

Bali Democracy Forum merupakan hasil rajutan  aktualisasi politik domestik dalam politik luar negeri bangsa Indonesia atau biasa disebut intermestic dan potret nyata  dari satu dekade lebih perjalanan berdemokrasi bangsa Indonesia. Dengan Bali Democracy Forum dapat disimpulkan bahwa demokrasi tidak saja menjaga bangsa Indonesia dari keruntuhan namun juga membawa bangsa Indonesia ke tempat yang lebih terhormat.

Penulis adalah Diplomat Muda RI. Artikel ini adalah opini pribadi



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
greenhijau
08/12/2011
demokrasi : sistem cacat penindas rakyat Winston Churchil : Democracy is worst possible form of government" (Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan). demokrasi ??? KE LAUT AJA !
Balas   • Laporkan
san6jawara
08/12/2011
demokrasi kebablasan, pencitraan, rekayasa, tipu muslihat.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com