DUNIA

Kisah Tragis Tiga Wanita Afganistan

Ada yang dimutilasi hidung dan telinganya.
Kamis, 2 Februari 2012
Oleh : Pipiet Tri Noorastuti
Aisha korban mutilasi hidung Taliban

VIVAnews - Potret kekerasan dalam rumah tangga hampir selalu menempatkan wanita sebagai korban. Lelaki seolah berkuasa penuh atas kehidupan wanita yang dinikahinya, seperti tergambar dalam sejumlah kisah tragis di Afganistan berikut ini.

Satu setengah tahun lalu, kita dikejutkan dengan kisah Aisha yang diangkat sebagai berita utama Majalah Time edisi 9 Agustus 2010.

Wanita Afganistan 18 tahun itu harus merelakan hidung dan telinga dipotong suaminya sendiri, sebagai hukuman karena pernah melarikan diri dari rumah. Kisah ini menjadi potret kekejaman Taliban terhadap warga Afghanistan, terutama wanita.

Kisah tragis itu terjadi setahun sebelumnya. Tengah malam, tiba-tiba militer Taliban menggedor pintu dan memerintahkan eksekusi hukuman terhadap Aisha yang berani melarikan diri dari rumah.

Sang suami segera menjalankan perintah itu dengan memotong telinga dan hidung istrinya dengan pisau.

Semua tak peduli dengan pembelaan Aisha bahwa ia melarikan diri karena diperlakukan seperti budak oleh suaminya.

Perlakuan keji seorang suami terhadap istri juga menimpa Sahar Gul. Lewat foto yang dirilis Afghan Women's Network, wanita 15 tahun itu memperlihatkan luka lebam bekas pukulan di sekujur tubuh.

Sahar Gul, wanita yang disiksa di AfganistanMulutnya tak lagi bisa bicara. Sekadar buang air kecil ke toilet pun ia tak sanggup. "Kami menyediakan konselor trauma untuk mendampingi Sahar karena ia terlihat sangat trauma. Bahkan saat saya mencoba menyentuh tangannya, ia menepisnya," kata Wazhma Frogh dari Afghan Women's Network.

Sahar mengalami siksaan lantaran menolak menjadi pekerja prostitusi. Yang menyiksa bukan hanya suaminya, tapi juga mertuanya.

Jika Aisha dan Sahar masih memiliki kesempatan hidup, tidak bagi Stori. Wanita 22 tahun asal Khanabad, Afganistan ini meregang nyawa setelah mengalami siksaan dari suami dan mertuanya. Nyawanya melayang gara-gara melahirkan anak perempuan, bukan laki-laki.

Tiga kisah menyanyat itu hanya sepenggal cerita panjang kasus kekerasan wanita di Afghanistan. Di kuartal kedua 2011, Komisi Independen HAM Afganistan mencatat 1.026 kasus kekerasan pada wanita. Sementara pada tahun sebelumnya jumlahnya mencapai 2.700 kasus. (eh)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found