DUNIA

Kisah Para Pembelot Korut di Korsel

Mereka terbiasa dengan budaya Korea Utara yang kaku dan otoriter.
Jum'at, 22 Juni 2012
Oleh : Sandy Adam Mahaputra, Indrani Putri
Perempuan prajurit Korea Utara berpawai di Ibukota Pyongyang

VIVAnews - Para wanita Korea Utara itu berbagi kisah tentang bagaimana mereka melarikan diri dari negara mereka yang kaku dan otoriter. Setelah sesi yang jauh dari kata santai itu usai, mereka mulai bergosip. Ada pula yang menyanyi atau menari.

Semua tingkah mereka merupakan bagian dari sebuah acara bincang-bincang sekaligus ajang unjuk bakat "Segera Bertemu Denganmu" produksi Korea Selatan. Para wanita yang tampil dalam acara yang ditayangkan setiap minggu itu merupakan warga yang membelot dari Korut.

Han Seo-hee merupakan salah satu di antara mereka. Diberitakan Reuters, Kamis 21 Juni 2012; sejak 2002 hingga 2006 Han menjadi salah satu anggota kelompok musik Kim Jong-il, mendiang pemimpin Korut yang dikenal otoriter.

Terbiasa dengan kultur Korut yang kaku, wanita 30 tahun ini mengaku masih kesulitan menyesuaikan diri dengan cara hidup di Korsel yang lebih santai. Rasa kurang nyaman masih muncul dalam benaknya setiap kali dia harus menghibur para penonton.

"Saya khawatir banyak penonton yang tidak menyukai penampilan saya lalu memberi komentar yang jelek," katanya.

Kenyataannya tidak demikian. Penampilan Han justru mendapat banyak tanggapan positif, sehingga dia kini merasa lebih percaya diri.

Apa yang dirasakan Han juga dirasakan oleh puluhan wanita pembelot lainnya. Membicarakan topik-topik yang ringan seperti pekerjaan yang paling diinginkan mungkin masih merupakan hal yang aneh, tapi setidaknya mereka kini mulai membiasakan diri.

Walaupun kultur santai Korsel mulai pelan-pelan bertumbuh pada diri wanita diri lewat syuting 'Segera Bertemu Denganmu', namun para wanita Korut ini tidak melupakan nasib keluarga mereka yang masih tertinggal di Korut. Dalam sesi terakhir acara, mereka mengirimkan video ungkapan rindu untuk keluarga mereka.

Penonton bahkan sempat dibuat terharu saat seorang wanita menuturkan saat-saat bertemu sang ayah yang ditahan di penjara Korut. "Saya tidak bisa melupakan senyum Ayah saat saya membesuknya di sana," kisahnya.

Mengungkap seperti apa sebenarnya kehidupan di Korut memang merupakan salah satu tujuan produser acara 'Segera Bertemu Denganmu', Lee Jin-min. Selain itu, Lee juga ingin menjembatani kesenjangan sosiokultural antara Korut dan Korsel yang selama ini membentang.

"Kami awalnya fokus pada keluarga-keluarga yang terpisah akibat Perang Korea 60 tahun lalu. Lalu terpikir oleh kami untuk mencari keluarga-keluarga lain yang terpisah akibat alasan politik, dan itulah yang membawa kami bertemu dengan para pembelot dari Korut," urainya.

Lee mulai menggarap acaranya sejak Desember tahun lalu, dan baru mengikutsertakan para wanita pembelot sejak April tahun ini. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran para wanita akan keselamatan keluarganya. Namun, bujukan para kru tentang kesempatan berbicara di depan umum yang tidak mungkin didapat di Korut meluluhkan hati mereka.

Usaha Lee tidak sia-sia, sebab warga Korsel pun menyukai acara ini. Selain menyentuh hati, acara ini juga membuka mata mereka tentang keadaan warga Korut sebenarnya.

"Saya selalu berpikir warga Korut adalah orang yang suram karena berita yang saya dengar selalu tentang musibah kelaparan. Ternyata, mereka ceria juga," kata Park Dong-hoon, penduduk Seoul berusia 52 tahun. "Saya jadi merasa Korut dan Korsel harus bersatu secepatnya."

Sejak era 90an, sudah lebih dari 23 ribu warga Korut mencari kehidupan yang lebih layak di Korsel. Menetap di sana juga bukan perkara mudah, karena selain menerima penolakan dari warga Korsel, warga Korut akhirnya hanya mendapat pekerjaan yang remeh untuk menyambung hidup.

TERKAIT
    TERPOPULER
    File Not Found