DUNIA

Ini Pengakuan Tentara AS Pembunuh Osama bin Laden

Dia menembak Osama tiga kali di kepala dan melihatnya sekarat.
Selasa, 12 Februari 2013
Oleh : Denny Armandhanu
Presiden Barack Obama dan wakilnya Joe Biden, bersama anggota Departemen Pertahanan AS sedang memantau operasi militer terhadap Osama bin Laden.

VIVAnews - Kisah penyerbuan pasukan khusus angkatan laut AS, SEAL, ke persembunyian Osama bin Laden di Pakistan, selama ini tertutup rapat-rapat. Kronologi penyerbuan yang menewaskan Osama itu akhirnya terbongkar setelah seorang tentara yang terlibat dalam operasi tersebut mengisahkan pada media.

Diberitakan Daily Mail, Senin 11 Februari 2013, tentara AS yang hanya ingin diidentifikasi sebagai "Si Penembak" demi keamanan keluarganya ini membongkar kisahnya untuk majalah Esquire edisi Maret nanti. Dia mengaku sebagai pembunuh Osama bin Laden dan melihat dengan mata-kepala sendiri kematian pemimpin al-Qaeda itu.

Si Penembak mengatakan, penyerbuan ke persembunyian Osama di kota Abbottabad dilakukan oleh enam orang anggota SEAL dengan informasi dari seorang agen wanita CIA. Agen ini mengatakan "100 persen yakin Osama ada di lantai tiga rumah itu."

Saat menyerbu ke dalam, mereka kaget melihat Osama yang ternyata berbeda dari bayangan mereka selama ini. Perawakan Osama ternyata lebih tinggi dari mereka, kurus dengan jenggot pendek dan kepala botak.

Kata Si Penembak, Osama memegang istrinya, Amal, di depannya sebagai tameng. Saat itu keadaan gelap gulita. Osama hanya bisa mendengar suara, tidak bisa melihat, sementara para tentara menggunakan google pandangan malam.

Para penyerbu khawatir, Amal dilengkapi dengan bom yang siap meledak dan membunuh mereka semua. Osama membawa pistol. Pilihan satu-satunya adalah menembak kepalanya untuk membunuhnya dengan cepat.

Si Penembak langsung menarik pelatuk tiga kali. "Saya menembaknya dua kali tepat di jidat. Dor! Dor! Dia menggelepar di lantai di samping tempat tidurnya dan saya menembaknya lagi, Dor! di tempat yang sama," kata dia.

"Dia mati. Tidak bergerak. Lidahnya menjulur keluar. Saya menyaksikan nafas terakhirnya yang pelan. Jidatnya hancur, dengan luka terbuka yang lebar. Saya bisa melihat cairan otaknya keluar ke wajahnya," lanjutnya.

Drama pembunuhan ini hanya berlangsung selama 15 detik. Istri Osama langsung berteriak menuju ke suaminya. Para tentara AS harus mengikatnya ke tempat tidur agar bisa diam.

Si Penembak melihat anak Osama yang paling kecil, usianya sekitar dua atau tiga tahun, menyaksikan langsung pembunuhan ayahnya.

"Dia berdiri di samping tempat tidur. Saya tidak ingin menyakitinya, saya bukan orang barbar. Dia menangis karena kaget. Saya tidak ingin dia takut. Saya menggendongnya dan menaruhnya di samping ibunya," kata Si Penembak.

Setelah itu, jasad Osama disimpan rapat-rapat oleh AS dan dilarung ke laut. Foto-foto otopsi dan pelarungan Osama termasuk berkas yang sangat rahasia dan tidak diungkap ke publik. Pengadilan di AS juga memutuskan bahwa pemerintah AS berhak tidak mengungkapkan foto-foto tersebut dengan alasan kepentingan keamanan nasional. (eh)

 

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found