DUNIA

Pekerja Korsel di Korut Santai Hadapi Ancaman Perang

"Kenyataan di lapangan jauh berbeda dengan di media," kata Seijin Roh.

ddd
Rabu, 3 April 2013, 09:23
Prajurit perempuan Korea Utara.
Prajurit perempuan Korea Utara. (REUTERS/Bobby Yip)

VIVAnews – Ratusan pekerja asal Korea Selatan yang bekerja di kawasan industri kota Kaesong, Korea Utara, menanggapi santai ancaman perang terbuka yang diumumkan Presiden Korut Kim Jong-un akhir Maret 2013 lalu. Para pekerja itu berpendapat, jika Korut berani menyerang Korsel, maka negara komunis itu akan mendapat balasan dua kali lipat dari Korsel.

Telegraph melansir ada 800 warga Korsel yang tercatat bekerja di Kaesong, Korut. Di kawasan industri itu, terdapat 123 perusahaan asal Korsel yang juga mempekerjakan 53 ribu pekerja asal Korut. Apabila perang benar-benar terjadi antara Korut dengan Korsel, maka para pekerja Korsel di sana terancam menjadi sandera dan tidak dapat kembali ke negaranya.

Namun Seijin Roh (55 tahun), wanita Korsel yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit, mengatakan tak terpengaruh oleh pemberitaan soal kemungkinan pecahnya perang terbuka antara kedua negara. “Kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda dengan apa yang Anda lihat di media,” ujarnya ketika mengurus surat izin masuk ke Korut.

Menurut Roh, ketika dia bekerja di Korut, tidak ada ketegangan apapun yang dirasakannya. “Bahkan warga Korut yang bekerja bersama saya kadang mentertawakan isi pemberitaan yang ada di media,” kata dia.

Sikap santai itu dibuktikan Roh dengan tetap kembali bekerja di Korut seperti biasa pada hari Senin kemarin. Selama lima hari kerja dari Senin sampai Jumat, Roh tinggal di sebuah asrama yang hanya berjarak sembilan kilometer dari Korsel. Untuk berkomunikasi dengan keluarganya, Roh menggunakan telepon umum yang hanya dapat digunakan pada malam hari.

Yongja Oh (52 tahun), warga Korsel yang memiliki pabrik di Kaesong, juga bersikap serupa. Menurutnya tidak ada hal aneh yang dia rasakan terjadi di Korut meskipun ancaman perang terbuka telah dilontarkan. Kendati begitu, dia tidak memungkiri kemungkinan bisa menjadi sandera jika perang sungguh terjadi.

“Tapi sejauh ini, saya tidak merasakan ada perubahan atmosfir di sini. Apapun kadang saya khawatir dengan nasib investasi saya di kota ini,” ujar Oh. Pekerja lain berpendapat, jika perang benar terjadi, maka Kaesong akan ditutup dan mereka akan dipulangkan kembali ke Korsel.

Beberapa analisis menjadikan kawasan industri Kaesong sebagai rujukan hubungan Korut dan Korsel. Daerah itu tidak pernah ditutup walaupun uji coba nuklir sempat dilakukan oleh Korut beberapa kali. Kendati begitu, pekan lalu Korut mengancam akan menutup Kaesong jika Korsel terus merugikan Pyongyang dengan menarik investasi mereka dari sana.

Untuk dapat menuju Kaesong, warga Korsel harus mengantre untuk melintasi jembatan unifikasi yang terletak setelah Sungai Imjin. Di sana mereka akan dihadang beberapa tentara di pos pengamanan dan harus mengantongi izin masuk dari kantor Transit Antar-Korea.

Pintu gerbang menuju kawasan Kaesong dibuka sejak pukul 07.00 pagi waktu setempat. Kawasan industri itu dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi warga lain yang bukan pekerja di sana. (kd)

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id