DUNIA

Kata-kata Terakhir Bomber Boston Sebelum Tewas

Tamerlan dan adiknya memuntahkan 200 peluru dari senjata mereka.

ddd
Selasa, 23 April 2013, 06:49
Sejumlah aparat  berusaha menangkap dua tersangka bom Boston, Jumat 19 April 2013
Sejumlah aparat berusaha menangkap dua tersangka bom Boston, Jumat 19 April 2013 (REUTERS/Lucas Jackson)

VIVAnews - Hari itu masih pagi, Jumat 19 April 2013. Di salah satu sudut Kota Watertown, Massachusetts, Amerika Serikat, pemuda Tamerlan Tsarnaev menelepon ibunya di antara suara tembakan.

"Polisi mulai menembaki kami. Mereka mengejar kami," kata Tamerlan (26) kepada ibunya, Zubeidat Tsarnaeva, seperti dikutip Dailymail. Polisi dan FBI memang tengah memburu Tsarnaev bersaudara, yakni Tamerlan dan adiknya, Dzhokhar sebagai tersangka bomber Boston. Mereka diduga terlibat dalam ledakan dua bom di Boston Marathon, 15 April lalu, dan menewaskan 3 orang.

Sebelum menyudahi sambungan telepon di Jumat pagi itu, Tamerlan mengucapkan, "Mama, aku mencintaimu."

Dalam baku tembak dengan polisi, Tamerlan dan adiknya memuntahkan 200 peluru dari senjata yang mereka pegang. Mereka tak mau menyerahkan diri ke polisi.

Sampai akhirnya Tamerlan kehabisan peluru. Saat itu, lah polisi berusaha meringkus dan memborgol Tamerlan. Namun, Dzhokhar yang mengendarai Mercedes SUV datang ingin menolong kakaknya dengan melindas para polisi.

Sontak, polisi berlarian. Namun, kendaraan yang dikemudikan Dzokhar malah melindas kakaknya. Kemudian, Dzhokhar keluar dari mobil dan lari.

Tamerlan langsung dilarikan ke rumah sakit Beth Israel, namun nyawanya tidak tertolong. Sementara Dzhokhar akhirnya ditangkap dalam keadaan luka berat di dalam perahu di belakang rumah warga Watertown.

Tamerlan Ditelepon FBI?

Sehari sebelumnya, demikian ditulis Wall Street Journal, Zubeidat Tsarnaeva sempat menelepon anaknya setelah insiden ledakan dua bom. Dia khawatir keselamatan anaknya itu.

Namun, kekhawatiran ibunya itu ditepis Tsarnaeva. "Mama, kenapa kau khawatir?" katanya sambil tertawa.

Zubeidat dan suaminya, Anzor Tsarnaev, mengklain bahwa putra tertua mereka itu pernah menerima telepon dari FBI yang menuduh anaknya itu terlibat dalam serangan bom di Boston Marathon. Orangtua menduga, kedua anaknya dijebak.

Saat ini, orangtua Tsarnaev berencana akan datang ke Amerika Serikat untuk melihat kondisi Dzhokhar (19) yang masih dirawat di rumah sakit akibat luka tembakan. Seperti diberitakan, orangtua Tsarnaev tinggal di Dagestan, Rusia.

Melalui sambungan telepon, Zubeidat sempat mengungkapkan kekhawatirannya kepada ABC World News. Dia takut anaknya yang selamat itu akan menghadapi ancaman pidana mati. "Saya kehilangan dua anak," kata dia sambil terisak.

Meski dia memiliki paspor Amerika, namun Zubeidat ragu bisa masuk negara adidaya itu karena kini statusnya adalah ibu tersangka kasus terorisme. (adi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
hamdanireno
23/04/2013
1 lagi korban media :-) saya pikir kebenaran suatu berita cukup pantas untuk diperjuangkan bukan? atau sekedar cari sensasi saja yg penting oplah tinggi, bisa menafkahi banyak orang, malu dong sama Tasripin???
Balas   • Laporkan
nebraska73 | 23/04/2013 | Laporkan
ya low gak percaya cek sendiri di boston..gitu ja ko repot!
blondot2012
23/04/2013
tragis sekali nasib kedua bocah ini, mereka salah jalan.
Balas   • Laporkan
hamdanireno
23/04/2013
demikianlah...arus utama berita luar negeri amerika yang di copy paste media-media lokal amatir semacam vivanews adalah khas film hollywood.. kita semua merindukan berita 2 yg obyektif dan tidak memihak..
Balas   • Laporkan
cincau | 23/04/2013 | Laporkan
daripada elu bisanya cuman komen gak bermutu, lu bilang amatir gak kebalik toh
audiotherapy
23/04/2013
MENEGERIKAN
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com