DUNIA

Radikalisme Pelaku Bom Boston Diduga Ditanamkan Ibunya

Ibunya kerap mengundang ulama radikal untuk berceramah.
Selasa, 23 April 2013
Oleh : Denny Armandhanu, Santi Dewi
Tamerlan Tsarnaev (bayi) dan ibunya (tengah)
VIVAnews - Salah satu pelaku bom Boston yang tewas, Tamerlan Tsarnaeva, diduga berubah menjadi radikal akibat pengaruh sang ibu, Zubeidat Tsarnaeva, 46. Menurut kesaksian sang paman, Ruslan Tsarni, ibunya menanamkan pemahaman radikal pada dua anaknya melalui seorang ulama ekstrem.

Dilansir laman Dailymail, Selasa 23 April 2013, Ruslan menyebut perkenalan kedua kakak beradik itu dengan radikalisme ketika Zubeidat mengundang seorang yang mengaku ulama asal Armenia bernama Misha. Zubeidat kerap memanggil ulama mualaf ini datang ke rumah mereka untuk memberikan ceramah kepada Tamerlan.

Menurut Ruslan, ulama itu mengklaim dirinya dapat berkomunikasi dengan setan dan mengusir roh jahat. Sementara ayah mereka, Anzor, tidak kuasa mencegah karena dia takut pada istrinya. Bahkan tahun 2007, Anzor, kata Ruslan, mendapati ulama tersebut berada di rumahnya pada tengah malam.

"Yang dibicarakan ustad itu selalu sama, mengenai Tuhan dan bagaimana dia mampu berbicara dengan setan. Anzor akhirnya meminta ustad itu angkat kaki dari rumah mereka, tetapi Zubeidat malah menyuruh suaminya itu diam karena sang ustad sedang memberikan wejangan kepada putranya," ungkap Ruslan.

Mulai saat itulah menurut Ruslan, Tamerlan mulai berubah menjadi radikal dan kerap mendatangi rumah ulama tersebut. Ruslan mengaku pernah mewanti-wanti Tamerlan untuk berhati-hati dan menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya.

"Tetapi hal itu malah tidak digubris oleh Tamerlan," kata Ruslan menyayangkan sikap keponakannya itu.

Ruslan mengatakan terakhir kali berkomunikasi dengan keponakannya itu tahun 2009 lalu. Ketika berkomunikasi lagi dengan Tamerlan, Ruslan merasa keponakannya itu sudah banyak berubah. Dia tidak lagi kuliah di Bunker Hill Community College dan tidak bekerja.

"Dia telah merubah pandangan hidupnya dan telah memilih jalan Tuhan. Dia mengatakan telah berada di jalan jihad," ujar Ruslan menirukan kalimat Tamerlan kala itu.

Tanpa pengawasan dari pamannya, Tamerlan semakin bertambah radikal. Bahkan secara pribadi merasa marah terhadap dunia ini. Tamerlan bahkan menularkan radikalisme ini pada adiknya Dzhokhar. Keduanya lantas melakukan pengeboman di Boston Marathon pekan lalu, yang menewaskan tiga orang dan melukai ratusan orang lainnya.

Saking dekatnya hubungan ibu dan anak ini, Tamerlan lebih memilih menghubungi Zubeidat sebelum ajal menjemputnya. Dalam keadaan terluka parah dia masih sempat menghubungi Zubeidat dan mengatakan polisi sedang mengejar dan menembaki mereka.

"Aku mencintaimu Mama," ujar Tamerlan sebelum dia menutup telepon dan tewas di Watertown pada Jumat dini hari pekan lalu. (eh)
TERKAIT
    TERPOPULER
    File Not Found