DUNIA

Di Myanmar, SBY Minta Kekerasan Atas Rohingya Dihentikan

SBY mengatakan, kasus Rohingya berdampak buruk bagi kawasan.

ddd
Rabu, 24 April 2013, 16:19
Presiden RI SBY dan Presiden Myanmar Thein Sein
Presiden RI SBY dan Presiden Myanmar Thein Sein (REUTERS/Myanmar News Agency/Handout)
VIVAnews - Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan dihentikannya kekerasan atas etnis Muslim Rohinya di Myanmar. Jika tidak segera dihentikan, konflik akan menyebar hingga ke kawasan Asia.

Diberitakan Reuters, imbauan disampaikan SBY dalam pertemuan dengan Presiden Myanmar Thein Sein pada kunjungan Selasa dan Rabu ini. Berbicara pada sebuah wawancara di Singapura, negara pertama tur tiga negara Presiden RI, SBY akan mendesak pemerintah Myanmar segera mengatasi kekerasan yang menimpa etnis Rohingya.

"Jika tidak diatasi dengan cara yang terbaik, dampaknya tidak baik bagi Myanmar dan bahkan bagi Indonesia yang mayoritas Muslim," kata SBY di forum Thomson Reuters Newsmaker di Singapura, Selasa kemarin.

Konflik terakhir yang melibatkan Muslim Rohingya dan warga Myanmar terjadi di Mikhtila, menewaskan 43 orang, kebanyakan Muslim. Sebelumnya tahun lalu, 110 orang tewas dalam bentrok di Rakhine. Sebanyak 120.000 warga kehilangan tempat tinggal, hingga banyak orang Rohingya yang pilih mengungsi.

"Saya mendesak Myanmar untuk mengatasinya dengan bijak, tepat dan mencegah ketegangan dan kekerasan. Kami di Indonesia siap mendukung mereka mencapai target ini," kata SBY lagi.

Myanmar akan menjadi kunjungan kedua SBY setelah ke Singapura dan sebelum ke Brunei Darussalam. Di Myanmar, SBY dan Thein Sein akan menyaksikan penandatanganan beberapa nota kesepahaman, termasuk di bidang rice trade, capacity building, dan trade and investment. Presiden RI juga dijadwalkan untuk bertemu dengan perwakilan masyarakat Indonesia di Myanmar.

Myanmar menjadi magnet bagi para kepala negara dunia setelah negara itu membuka diri dan melakukan reformasi menuju demokrasi. SBY mengatakan, sejak zaman pemerintah junta Myanmar, Indonesia telah menyerukan perubahan di negara tersebut.

"Indonesia terus mendorong Myanmar meneruskan proses demokratisasi agar mereka tidak lagi diganggu oleh embargo," ujarnya. (umi)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
asalamina
25/04/2013
inilah satu bukti pentingnya kekuatan militer, coba kalo yang melakukan pelanggaran HAM itu negara adidaya macam amrik, indonesia pasti ga akan berani menegur. xixixixi..........
Balas   • Laporkan
audiotherapy
24/04/2013
AKHIRILAH PENDERITAANYA MEREKA JG MANUSIA............................
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id