DUNIA

Rusia Ungkap Identitas Kepala CIA di Moskow

Ini balas dendam Rusia setelah CIA terungkap hendak merekrut agen FSB.
Sabtu, 18 Mei 2013
Oleh : Anggi Kusumadewi, Santi Dewi
Ryan Fogle, diplomat AS sekaligus agen intelijen yang ditangkap Rusia karena hendak merekrut agen FSB.

VIVAnews – Usai menangkap basah seorang agen intelijen Amerika Serikat (CIA), Ryan Fogle, Rusia kemudian mengungkap nama kepala CIA yang berkantor di Moskow. Hal itu diungkapkan  juru bicara badan intelijen Rusia (FSB) kepada kantor berita Rusia, Interfax.

Laman Guardian, Sabtu 18 Mei 2013, melaporkan juru bicara FSB merasa tindakan CIA yang mengirimkan agennya, Ryan Fogle, untuk merekrut salah satu anggota mereka sudah melewati batas.

“Berkaca pada prosedur resmi, maka kami terpaksa bereaksi,” ujar juru bicara yang tidak ingin disebut namanya itu kepada Interfax, Jumat kemarin.

Menurut juru bicara itu, apabila CIA masih terus melakukan upaya yang dinilai Rusia provokatif, maka FSB akan melakukan hal yang sama, yaitu merekrut agen CIA. Dalam laporan itulah kemudian juru bicara FSB tersebut ikut menyebut nama kepala CIA di Moskow, ibu kota Rusia.

Pernyataan juru bicara itu langsung dikutip oleh banyak media cetak dan stasiun televisi milik pemerintah Rusia, termasuk stasiun televisi berbahasa Inggris, Rusia Today. Setelah identitasnya diungkap, belum diketahui apakah orang tersebut kini masih menjabat sebagai kepala CIA di Moskow atau tidak.

Langkah FSB ini dinilai banyak pihak telah melanggar protokol diplomatik di antara kedua negara. Banyak pihak menduga langkah ini bakal memicu kemarahan Gedung Putih. Sebelumnya, Rusia sudah memperingatkan markas CIA di Moskow untuk menghentikan aksi provokatif mereka di tahun 2011.

Menurut FSB, kasus Fogle bukan kali pertama terjadi. Pada Desember 2012, FSB juga pernah menangkap mata-mata AS lainnya yang juga menjabat sebagai sekretaris tiga Kedutaan Besar AS di Rusia. Dia kemudian dilarang menginjakkan kaki di Rusia dan diberi status “persona non grata” pada 11 Januari lalu.

Diplomat AS itu kemudian meninggalkan Rusia empat hari sesudahnya. Sementara di tempat berbeda, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jen Psaki, mengatakan kepada media bahwa kasus ini tidak akan berdampak terhadap hubungan kedua negara. “Kami tetap merasa dapat menjalin hubungan yang positif dan terus melanjutkan kerja sama pada bidang yang telah disepakati,” ujar Psaki.

Psaki mengatakan, memang ada beberapa keputusan berbeda yang diambil oleh kedua negara. Salah satu keputusan yang berbeda itu merujuk pada kasus pertikaian di Suriah. Dalam kasus itu, AS mendukung kaum pemberontak, sementara Rusia mendukung pemerintah resmi.

Hingga kini belum diperoleh kabar apakah Ryan Fogle telah meninggalkan Rusia setelah tertangkap basah hendak merekrut agen FSB pada Minggu lalu. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found