DUNIA

Mesir dan Ethiopia Berebut Air Sungai Nil

Mesir marah, Ethiopia ingin mengalihkan aliran Sungai Nil.

ddd
Selasa, 4 Juni 2013, 11:47
Sungai Nil
Sungai Nil (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)

VIVAnews - Mesir dan negara tetangganya, Ethiopia, tengah terlibat ketegangan terkait perebutan air Sungai Nil. Ethiopia berencana mengalihkan sebagian debit air untuk bendungan, sementara Mesir memerlukannya sebagai sumber air utama negara.

Diberitakan al-Arabiya, Presiden Mohamed Mursi menegaskan bahwa Mesir tidak akan membiarkan air Sungai Nil bagian mereka diambil barang setetes pun. "Kami tidak akan membiarkan setetes pun air sungai Nil terpengaruh," kata Mursi.

Mursi masih lebih lunak dibandingkan para pendahulunya. Sebelumnya, di bawah kepemimpinan Hosni Mubarak, Mesir mengancam perang jika Ethiopia mengalihkan aliran sungai Nil ke wilayah mereka.

Perseteruan kedua negara dimulai saat Ethiopia memaparkan rencana untuk mendirikan bendungan hydroelectric terbesar di Afrika. Untuk mengisinya, Ethiopia akan mengalihkan aliran Sungai Nil Biru ke bendungan.

Pengalihan pertama telah dilakukan pada 28 Mei lalu. Tahap pembangunan pertama akan selesai dalam waktu tiga tahun, dengan kapasitas 700 megawatt. Jika selesai seluruhnya, maka akan menghasilkan listrik bagi negara itu hingga 6.000 megawatt.

Sungai Nil Biru bergabung dengan Nil Putih di Khartoum dan mengalir hingga ke Sudan dan Mesir sebelum bermuara di Laut Mediterania. Bendungan ini penting bagi energi Ethiopia, namun juga krusial bagi Mesir dan Sudan.

Jika Nil Biru dialihkan, maka debit aliran sungai ke Nil akan berkurang. Pengaturan pembagian air Nil sebenarnya telah disepakati tahun 1929 antara Ethiopia, Mesir dan Sudan. Dalam perjanjian, Mesir mendapat 55,5 miliar kubik meter, sementara Sudan mendapat 18,5 miliar kubik meter, Ethiopia sisanya dari total 84 miliar kubik meter. Sebanyak 10 miliar kubik meter menghilang akibat penguapan.

Wakil Perdana Menteri Ethiopia Demeke Mekkonin menegaskan bahwa pengalihan Nil Biru tidak akan mempengaruhi debit air di Mesir dan Sudan. Hal yang sama disampaikan beberapa peneliti di Mesir.

Namun, insinyur bendungan dari Universitas Kairo sekaligus peninjau bendungan Ethiopia Alaa el-Zawahri mengatakan bahwa Mesir terancam kehilangan 15 miliar kubik meter jika Nil Biru dialihkan.

"Jika saya optimistis, ini akan menyebabkan kerusakan di Mesir. Jika saya pesimistis, ini adalah bencana," kata Zawahri.

Selain bernegosiasi, Mesir juga melakukan langkah lain menghentikan pembangunan bendungan Ethiopia. Salah satunya adalah melobi Amerika Serikat, yang akan meyakinkan Bank Dunia dan lembaga donor untuk tidak memberi pinjaman pada Ethiopia dengan dalih stabilitas kawasan.

Lobi ini berhasil. Namun Ethiopia tidak kehilangan akal. Mereka mendanai proyek itu dari kantung sendiri, salah satunya dengan cara memeras pegawai negeri. Para PNS di Ethiopia harus merelakan sebulan gaji mereka demi pembiayaan, jika menolak akan dipenjara.

Mursi semakin meradang. "Situasi ini memerlukan persatuan di negara kita demi mencegah ancaman terhadap Mesir," kata dia.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com