DUNIA

Pemimpin Tertinggi Iran: "Persetan Amerika!"

Kandidat Hassan Rohani unggul sementara dalam pemilu Iran.
Sabtu, 15 Juni 2013
Oleh : Ita Lismawati F. Malau, Santi Dewi
Suasana pemilu di Kedubes Iran Jakarta.
VIVAnews - Pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, mengungkapkan kemarahannya kepada Amerika Serikat yang mengkritik transparansi pemilu. Khamenei mengungkapkan kekesalannya itu usai memberikan hak suaranya, Jumat 14 Juni 2013 waktu setempat.

Dilansir dari laman Dailymail, Jumat 14 Mei 2013, AS menilai pemilu yang digelar Iran diwarnai banyak kecurangan untuk mendukung sistem pemerintahan yang berlaku di Iran. Indikasinya, Khamenei tiba-tiba melarang beberapa kandidat capres, seperti mantan Presiden Iran, Akbar Hashemi Rafsanjani, dan kelompok moderat lainnya.

"Baru-baru ini saya dengar bahwa seorang pejabat berwenang AS mengatakan mereka tidak menerima pemilu ini. Baiklah, persetan dengan kalian!"

Menurut rilis dari Kementerian Luar Negeri Iran--yang diterima VIVAnews dari Kedutaan Besar Iran di Indonesia--Sabtu 15 Juni 2013, pemilu Presiden ke-11 ini diadakan damai dan transparan. Bahkan terjadi peningkatan jumlah pemilih yang ikut berpartisipasi dalam pemilu tahun ini.

Ini merupakan bentuk kesuksesan lainnya dari kemandirian politik Iran berdasarkan perpaduan identitas keagamaan dan nasional dengan mekanisme demokrasi serta sistem politik yang modern.

Sementara AS menyatakan ketidaktransparanan pemilu di Iran berdasarkan peristiwa pada pesta demokrasi empat tahun sebelumnya. Dalam pemilu 2009 silam, AS menilai pemilu sudah ditetapkan agar dimenangkan oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Kendati begitu, AS tetap mengimbau agar seluruh warga Iran menggunakan hak pilih mereka. "Tentu saja kami mendukung mereka menggunakan hak pilih. Namun sejarah di sini dan apa yang terjadi sebelumnya empat tahun lalu membuat kami berpikir ulang soal transparansi," ujar Jen Psaki, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Saat ini hasil pemilu sementara masih menunjukkan kandidat dari kalangan moderat, Hassan Rohani, unggul. Menurut aturan yang berlaku apabila tidak ada kandidat memperoleh suara mayoritas, maka dua kandidat teratas harus berlaga di pemilu putaran ke-2 tanggal 21 Juni.

Penasihat terdekat Khamenei, Ali Akbar Nategh Nouri, memprediksi tidak akan ada pemilu putaran ke-2 pada Jumat mendatang. Namun Menteri Dalam Negeri Iran, Mostafa Mohammad Najjar, menepis semua spekulasi yang berkembang.

Dia hanya mempercayai hasil resmi yang dikeluarkan komisi pemilu pada Sabtu ini.
TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found