DUNIA

Kesaksian atas Horor Kekejaman Tentara Rezim Assad

Tak kurang 1.500 orang dibantai dalam sehari, wanita dan anak-anak.

ddd
Sabtu, 29 Juni 2013, 06:01
Anak-anak Suriah bermain di lokasi konflik di Qusair
Anak-anak Suriah bermain di lokasi konflik di Qusair (REUTERS/Rami Bleibel )

VIVAnews - PBB mencatat telah lebih dari 900 ribu orang tewas pada perang saudara di Suriah yang telah berlangsung selama dua tahun. Keterlibatan Hizbullah dan Iran mempertegas konflik sektarian Sunni-Syiah di negara tersebut.

Kekejaman tentara rezim Bashar al-Assad yang dibantu Hizbullah dan Iran juga semakin tidak bisa diterima nalar. Salah satuya digambarkan dalam kesaksian warga asal Baniyas, Abu Mohammad, kepada stasiun televisi Al-Arabiya. Mohammad adalah satu dari korban yang selamat dari pembantaian di desanya yang menewaskan 1.500 orang dalam satu malam.

Pembantaian ini, kata Mohammad, sangat tidak diduga. Menurut dia, awalnya tentara Suriah mengizinkan warga berlalu-lalang, walaupun pos-pos pemeriksaan berdiri di beberapa tempat. Kemudian pada Rabu itu, militer menutup semua akses jalan. Insiden ini diduga terjadi bulan lalu.

"Saat ini orang-orang mulai merasa takut bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Pada hari Kamis, warga setempat yang berjumlah sekitar 500-600 orang berusaha kabur menuju jembatan dekat pos pemeriksaan. Namun mereka diteriaki tentara dan disuruh berbaring di tanah, 'Kalian hewan!! Berdiri dan pulang ke rumah kalian!!'," Mohammad menirukan.

Kemudian datanglah hari Jumat, hari naas yang penuh darah. Tentara memberlakukan jam malam dan menembakkan ratusan peluru ke udara jika ada warga yang berusaha kabur. Akhirnya, orang-orang memilih berdiam di dalam rumah dengan perasaan dicekam ketakutan.

Dan benar saja. Pada dini hari, terjadilah pembantaian itu.

"Antara jam 3.00 dan 3.30, mereka mulai menembak di Baniyas terutama di Ras-Elnabe’ menggunakan tembakan mortir dan artileri. Penduduk adalah orang-orang yang hidup dalam situasi damai sebelumnya. Kami tak punya apa-apa di desa dan tidak ada pemberontak bersenjata. Kami kemudian melihat tentara turun dari jembatan Ooze mendekati desa. Mereka lalu menghadang dan menembaki desa kami dengan artileri berat," ujar Mohammad.

"Mereka tiba di rumah pertama dan memaksa semua orang keluar lalu menyuruh mereka menghadap dinding dan menembaki mereka semua. Kemudian di rumah kedua, mereka membunuh sekitar 4-5 orang. Pada saat itu, beberapa anggota keluarga saya berada di luar rumah. Saya datang kembali untuk menjemput dan membawa mereka kabur. Ketika saya kembali, saya dipaksa masuk ke ruang bawah tanah kecil. Saya terjebak di dalam," Mohammad menuturkan.

Horor 

Dari ruang bawah tanah itu, Mohammad menyaksikan horor peperangan. Sebanyak 35 anggota keluarganya dibantai tentara Assad, tidak peduli mereka orang dewasa, wanita atau anak-anak. Mohammad mengatakan bahwa usia anggota keluarganya yang terkecil adalah 15 hari, lalu 1,5 tahun, 2 dan 3 tahun!

“Bunuh mereka semua! Jangan ada belas kasihan pada siapa pun! Bunuh mereka semua, jangan berbelas kasihan pada siapa pun!!” Mohammad menirukan teriakan tentara berkali-kali di atas kepalanya.

Tentara rezim Assad melepaskan 20-30 tembakan setiap menitnya. Eksekusi dilakukan dari rumah ke rumah, belum termasuk mereka yang dihadang di jalan. Diperkirakan, jumlah korban tewas mencapai 1.000-1.500 orang. Mohammad menjelaskan saat itu tentara yang seperti kerasukan setan itu menumpuk mayat anak-anak menjadi satu, tanpa belas kasihan sama sekali.

"Salah satu dari mereka mengatakan melihat yang ada satu masih hidup, tanpa basa-basi mereka menembak kepala bayi itu. Tentara ini meneliti mereka satu per satu dan menembak mereka. Jika Anda telah melihat foto-foto, ada dua anak-anak setelah mereka bunuh, mereka bakar tangan dan kaki anak tersebut," kata Mohammad.

Mohammad mengaku dia tidak bisa memahami aksen dan beberapa kata yang diucapkan tentara-tentara itu. Dia menduga, mereka berasal dari lebih satu kelompok. Salah satunya, dia menduga ada yang berasal dari kelompok Syiah Alawi dan dari Iran.

"Beberapa orang terbunuh oleh senjata dan pisau, lainnya dipukul dengan batu sampai kepala mereka terbelah. Mereka bahkan tidak menyisakan anak-anak atau orang tua," ujarnya lagi.

Komunitas internasional belum juga bisa menghentikan kengerian yang dialami masyarakat Suriah. Di tataran diplomasi, solusi mandek saat Rusia dan China memveto resolusi PBB. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa masih ribut membahas siapa yang akan mengirim bantuan senjata lebih dulu bagi pejuang Suriah.

Sementara mereka berdebat soal solusi damai, masyarakat Suriah hidup di ambang maut. Setiap hari mereka dilanda ketakutan. Anak-anak, istri, dan orang tua mereka bisa saja mati mengenaskan setiap saat di moncong senjata tentara rezim. (kd)

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
safiyah
29/06/2013
dari sejarah dan kejadian ini jelas telihat siapa yg membela kemanusiaan walau beda agama,,,al,,,,USA,lihat cina dan rusia ,demi terjualnya senjata mereka rela memveto...mana negara arab lainnya koq enak enakan kawin kontrak di bogor.
Balas   • Laporkan
wong.jogja | 29/06/2013 | Laporkan
tapi USA ini juga aneh sih, bukannya berupaya melakukan mediasi tapi malah kirim senjata ke pemberontak. padahal USA juga tahu kalau nantinya akan seperti waktu bantu senjata ke taliban melawan soviet dulu.
arya_tedja
29/06/2013
FPI kok diem aja? Lo bela siapa FPI? Habib sama Munarman cuma berani ama org tua & perempuan! Maju sono ke Suriah kalo Lo berani!
Balas   • Laporkan
berjenggot
29/06/2013
Liat aja komen2 diatas...Klo ada apa2 selalu aja memfitnah yahudi, USA, eropa. Jelas2 sunni pengen habisi syiah, dan syiah pengen habisi sunnni, tapi kok mesti selalu menfitnah yahudi? Kacian otak lo....
Balas   • Laporkan
skinhead
29/06/2013
kekejaman Syiah Alawiyah...belum pernah ada sejarah kekejaman spt ini sebelumnya
Balas   • Laporkan
wong.jogja | 29/06/2013 | Laporkan
semuanya kejam kejam kejammmmmm......
wira_pamungkas
29/06/2013
Semua cerita harus di cek silang untuk memperoleh kebenarannya . Cerita bisa menjadi sebuah propaganda yang menguntungkan pihak-pihak tertentu .
Balas   • Laporkan
skinhead | 29/06/2013 | Laporkan
sampeyan berangkat saja sendiri ke Suriah biar jelas
phoenixdeft
29/06/2013
itu sih bukan manuasia yg buat sprti itu tpi setan.gk punya prikemanusiaan.
Balas   • Laporkan
nrimo
29/06/2013
Kejadian seperti akan selalu berulang-ulang apabila kita tidak bisa menghormati kelompok lain yang berbeda-beda dan selalu menganggap benar serta berhak menghakimi pihak lain menurut hukumnya sendiri.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com