DUNIA

PBB Kecam Australia Soal Kebijakan Terbaru Pencari Suaka

PBB merasa disulitkan dengan adanya kebijakan itu.

ddd
Jum'at, 26 Juli 2013, 19:02
Imigran Gelap asal Timur Tengah
Imigran Gelap asal Timur Tengah (VIVAnews/Fajar Sodiq)
VIVAnews - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi (UNHCR) pada Jumat ini mengeluarkan pernyataan resmi berisi kecaman terhadap Pemerintah Australia soal kebijakan terbaru bagi pencari suaka. Mereka merasa disulitkan dengan adanya kebijakan itu dalam memproses dan menerima para pencari suaka ke Negeri Kangguru.

Stasiun berita Al Jazeera, Jumat 26 Juli 2013 melansir kebijakan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi PBB.

"Kesepakatan yang diteken oleh Pemerintah Australia dengan Papua Nugini (RRA) menimbulkan pertanyaan serius dan tidak terjawab hingga kini soal perlindungan bagi kaum pencari suaka," tulis mereka dalam pernyataan resminya.

Selain itu, UNHCR juga mengaku khawatir dengan laporan Kepala Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pusat Penahanan para pencari suaka Papua Nugini, Rod St George, yang menyebut para pencari suaka menjadi korban pemerkosaan dan penyiksaan selama berada di sana. Perwakilan UNHCR sudah pernah berkunjung ke fasilitas penahanan bagi para pencari suaka di Papua Nugini.

Mereka menemukan banyak kekurangan dalam menangani para pencari suaka dan kurangnya fasilitas fisik di dalam kamp penahanan itu. Menurut UNHCR, kondisi yang demikian buruk dapat membahayakan keadaan psikososial dan fisik para pencari suaka khususnya bagi anak-anak dan keluarga.

Sementara itu Menteri Imigrasi Australia, Tony Burke, dilaporkan sudah mengunjungi fasilitas penahanan sementara bagi para pencari suaka pada Kamis kemarin di Pulau Manus, Papua Nugini. Burke pun mengakui dalam dua jam kunjungannya tersebut, dia menemukan fasilitas yang terdapat di pangkalan udara Lombrum itu belum standar.

Dia kemudian berjanji akan mendorong Pemerintah Australia untuk memperluas pusat penahanan. Di lain pihak, Pemerintah Australia melalui pihak imigrasi mengeluarkan sebuah pernyataan kontroversial pada awal pekan ini di situs mereka.

Di situs resmi institusi pemerintah tersebut tertulis "81 Warga Iran mendapat pesan baru: "Anda tidak akan tinggal di Australia". Pesan itu juga disertai video dan gambar beberapa pengungsi.

Menurut Manajer Regional Departemen Imigrasi Australia, Steven Karras, pesan yang terkandung di dalam video tersebut yakni ingin menyampaikan supaya mereka berhenti menyeberang ke Australia. Karras berpendapat apabila para pencari suaka sudah mengetahui sejak awal aturannya telah diubah, maka mereka tidak akan lagi menyelundup ke Australia menggunakan kapal.

"Saya yakin saaat ini mereka telah berpikir sejak awal apakah langkah ini memang bijak," ujar Karras.

Masih menurut Karras, dengan adanya aturan baru, maka para pencari suaka akan mulai berpikir serius bahwa kembali ke negara asalnya merupakan opsi yang lebih baik. (umi)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
safiyah
27/07/2013
dewa subagya,,,pertanyaan yg sama dlm hati saya, mengapa mereka harus mencari negara dimana pemerintah dan mayoritas bukan negara agama yg merka puji2 alias kafir. 2.pbb harus memperingatkan pemerintah asal imigran ,agar rakyatnya betah tinggal dirumah .
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com