DUNIA

Senat AS Hambat Penutupan Penjara Guantanamo

Selain itu, Senat menolak usulan agar tahanan eks Guantanamo diadili atau dipenjara di AS
Rabu, 20 Mei 2009
Oleh : Renne R.A Kawilarang, Shinta Eka Puspasari
Kamp Delta, Guantanamo Bay, Dec. 2006

VIVAnews - Janji Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Hussein Obama, untuk menutup penjara khusus tersangka teroris di Teluk Guantanamo (Gitmo), Kuba, dalam jangka waktu setahun ternyata dihambat oleh para sekutunya, yang mewakili Partai Demokrat di Senat.

Para senator itu, Selasa 19 Mei 2009, menolak pengucuran dana untuk menutup Gitmo sepanjang Obama belum memaparkan rencana yang memuaskan mengenai penempatan para tahanan.

Penolakan itu terkait dengan permohonan tambahan dana US$ 80 juta untuk digunakan Departemen Kehakiman dan Departemen Pertahanan dalam menutup Gitmo sekaligus memindahkan 240 tahanan.

Kubu Demokrat di Senat juga akan terus menghalangi pemerintah mentransfer para tahanan ke AS. Larangan ini dapat diperlonggar dengan sejumlah pengecualian. "Kami tidak menginginkan tahanan Guantanamo diadili atau dipenjara di AS," kata Ketua Fraksi Demokrat di Senat, Harry Reid.

Keputusan mengenai pengucuran anggaran tambahan ini akan diambil melalui pemungutan suara, Rabu siang 20 Mei 2009 waktu Washington DC.

Sikap Senat mengenai penolakan anggaran tambahan ini sejalan dengan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Maka, sejumlah kalangan khawatir keputusan DPR dan Senat akan menghambat rencana penutupan penjara Guantanamo, Januari mendatang.

Juru bicara Departemen Pertahanan, Geoff Morrell, menyatakan setidaknya sejumlah dana harus segera dialirkan. "Atau target Obama tidak akan dapat tercapai," kata dia. Sedangkan Jaksa Agung Eric Holder telah berusaha meyakinkan para pembuat kebijakan. Namun Kongres bergeming dan diperkirakan akan memaksa penjara Guantanamo tetap dibuka.

Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengatakan langkah pembuat kebijakan sangat tepat. Menurut Gibbs, Obama akan membeberkan rancangan awal rencana penutupan Guantanamo pada hari Kamis waktu Washington DC. (AP)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found