TUTUP
TUTUP
DUNIA

Detektor Bom Palsu, Irak Kecolongan

Detektor palsu tak bisa mengenali mobil bermuatan bom saat pemeriksaan
Detektor Bom Palsu, Irak Kecolongan
Sisa-sisa ledakan bom di pusat belanja Al Hadi, Karrada, Irak. Ledakan tersebut terjadi pada Minggu, 3 Juli 2016. (REUTERS/Khalid al Mousily)

VIVA.co.id – Ledakan bom dengan skala besar yang terjadi di Karrada, Irak, pada Minggu, 3 Juli 2016, diduga karena petugas keamanan gagal mendeteksi kendaraan pengangkut bom tersebut. Kegagalan itu terjadi karena detektor yang digunakan untuk mendeteksi bom diduga palsu.

Warga Karrada yang berduka melampiaskan kemarahan mereka pada pemerintah. Saat Perdana Menteri Haidar Al Abadi mengunjungi lokasi ledakan, warga mendemo dan meneriaki perdana menteri. Mereka menganggap negara gagal melindungi dan memberi rasa aman pada warganya. Abadi mengaku bisa memahami reaksi tersebut. Ia berjanji akan meningkatkan keamanan dengan memeriksa kendaraan bermotor secara ketat dan menindak tegas penggunaan tongkat detektor bom palsu.

Dilansir dari laman BBC, Selasa, 5 Juni 2016, alat deteksi bom palsu merupakan sebuah alat dengan perangkat lunak yang murah. Alat tersebut ternyata banyak ditemukan dan dijual di Irak oleh para oknum tak bertanggung jawab. Salah seorang pengusaha Inggris, dipenjara selama 10 tahun karena menjual lebih dari 6.000 alat itu ke Irak dengan harga US$40ribu atau setara dengan Rp524 juta rupiah.

Sebuah truk yang dipenuhi dengan bahan peledak, meledak di distrik Karrada ketika ratusan orang sedang berbelanja untuk keperluan Hari Raya Idul Fitri. Ledakan ini dinilai sebagai serangan bom tunggal paling mematikan di Irak sejak 2007.

Jumlah korban akibat bom yang menghancurkan pusat belanja Al Hadi di Karrada, Irak, pada Minggu, 3 Juli 2016, terus bertambah. Bom tersebut meledak di pusat belanja yang sedang dipenuhi pengunjung yang akan berbelanja keperluan lebaran. Hingga hari ini, Selasa, 5 Juli 2016, korban tewas akibat ledakan bom sudah mencapai 165 orang, dan korban luka-luka sudah mencapai 225 orang. Kebanyakan korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.

Pemerintah Irak menetapkan tiga hari masa berkabung sebagai ungkapan duka atas tragedi kemanusiaan dengan korban yang sangat besar tersebut.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
<
TERPOPULER
TUTUP