TUTUP
TUTUP
DUNIA

Pemerintah Turki Gencar Bersihkan Gulenist

Fethullah Gulen yang dituding dalang kudeta kini masih berada di AS.
Pemerintah Turki Gencar Bersihkan Gulenist
Militer pro pemerintah berjaga di jalan utama Turki. (REUTERS)

VIVA.co.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki, Mevlut Cavusoglu memberikan penjelasan kepada Menlu Amerika Serikat (AS) John Kerry bahwa Fethullah Gulen adalah yang bertanggung jawab di balik upaya kudeta pemerintahan Turki pada Jumat malam waktu setempat.

Faksi militer yang dianggap oleh pemerintah Turki sebagai pendukung Gulen dicap sebagai kelompok yang mencoba merebut kekuasaan melalui penyerangan menggunakan tank dan helikopter. Pada penyerangan itu, 161 orang tewas termasuk warga sipil.

"Pembicaraan ekstradisi tidak ada dalam percakapan kami kemarin. Namun saya menegaskan kepada Menlu AS bahwa ini merupakan upaya Gulen yang saat ini berada di Amerika," kata Cavusoglu dalam sebuah wawancara seperti diberitakan Reuters pada Minggu, 17 Juli 2016.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa waktu lalu secara tegas juga menuding kelompok keagamaan Gulen sebagai kelompok teroris dan mengatakan akan mengejar tuntas para anggotanya. Sebelumnya, pemerintah Turki telah beberapa kali meminta Gulen agar diekstradisi dari AS.

Menyikapi upaya kudeta kemarin, Cavusoglu mengatakan pihak militer Turki saat ini mendesak untuk "dibersihkan" dari Gulenist atau pengaruh Gulen.

"Setelah pembersihan ini selesai, militer kami akan lebih kuat, tentara kami akan menjadi lebih kuat dan memberi dukungan yang lebih baik untuk NATO (pakta pertahanan Atlantik Utara)," katanya.

Selain itu, ia juga meminta tentara yang berada di Pangkalan Udara Incirlik di Turki bagian selatan yang digunakan militer AS agar menyerang gerilyawan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Suriah melalui udara. Pasalnya, gerilyawan ISIS juga dinilai terlibat dalam upaya kudeta.  

"Setelah operasi ini selesai, kami akan melanjutkan perjuangan kami melawan ISIS, dengan bekerja sama baik dengan negara koalisi maupun kerja sama dengan NATO," ujarnya.

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
<
TERPOPULER
TUTUP