TUTUP
TUTUP
DUNIA

Darurat, KJRI Jeddah Butuh Sekolah

Sudah berdiri selama 50 tahun, tapi tak punya gedung sendiri.
Darurat, KJRI Jeddah Butuh Sekolah
Beginilah kondisi Sekolah Indonesia di Jeddah, Saudi Arabia. (KJRI Jeddah.)

VIVA.co.id - Mendikbud yang baru saja menjabat, Muhadjir Effendy, mendapat permintaan khusus dari masyarakat Indonesia yang bermukim di Jeddah. Mereka berharap, Mendikbud sudi menengok sekolah bagi anak-anak WNI yang tinggal disana. 

Menurut keterangan Abdullah M.Umar, Ketua Komite Sekolah Indonesia Jeddah, sekolah ini tak banyak berubah sejak didirikan pada tahun 1964 lalu."Sekolah Indonesia Jeddah berdiri sejak tanggal 1 Januari tahun 1964. Semula hanyalah Taman Kanak-kanak yang dikelola Ibu-ibu Dharma Wanita unit KBRI (sebelum menjadi KJRI) Jeddah dengan nama Taman Kanak-kanak "Trikora." Nama Trikora diambil karena saat rapat pertama pendirian sekolah bersamaan dengan tanggal 19 Desember 1963 saat pernyataan Tri Komando Rakyat untuk merebut kembali Irian Barat yang masih dalam cengkeraman penjajah," ujar Abdullah kepada VIVA.co.id yang menghubunginya, Selasa, 2 Agustus 2016.
 
Abdullah mengatakan, sejak awal berdirinya hingga tahun 2015, sekolah ini berstatus sebagai sekolah komunitas, meskipun berada langsung di bawah Perwakilan RI Jeddah. Atas permintaan Perwakilan RI Riyadh tahun 2015, pemerintah Arab Saudi menyetujui perubahan status sekolah dari sekolah komunitas mejadi sekolah Kedutaan. Berubahnya status Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) dari sekolah komunitas menjadi sekolah Perwakilan RI pada tahun 2015 merupakan perjuangan Perwakilan RI yang harus mendapatkan apresiasi.

Selama 52 tahun, jumlah murid terus mengalami peningkatan. Sepanjang berdirinya, SIJ sudah empat kali pindah gedung. Sejak 10 tahun yang lalu sekolah menempati gedung yang terletak di distrik Baghdadiyah. Gedung ini hanya memiliki 23 kelas. Sangat tak sebanding karena SIJ memiliki 44 rombongan belajar untuk menampung sebanyak 1406 siswa yang terdiri dari 92 murid TK,  961 murid SD,  206 murid SMP, dan 147 murid SMA.

Untuk menyiasati kekurangan kelas tersebut sekolah membaginya menjadi tiga shift, yaitu pagi, siang dan sore. Pembagian shift itu membuat proses belajar dan mengajar terpaksa harus dilakukan sejak pagi hingga sore hari, mulai pukul 07 hingga 17.00 waktu setempat.

Menurut Abdullah, saat ini hal yang mendesak adalah gedung yang saat ini tidak memenuhi standar keamanan dan keselamatan sebagai mana ditentukan oleh otoritas wewenang Arab Saudi. "Sangat dikhawatirkan ijinnya yang akan habis 19 Ramadan tahun 1438 atau Ramadhan tahun 2017 tidak diperpanjang oleh Dinas Pendidikan Arab Saudi karena alasan keselamatan," ujar Abdullah.

Proses pencarian gedung sewa pengganti oleh KJRI sudah dilakukan sejak lebih dari setahun yang lalu, namun sampai saat ini belum ada hasil. "Bagaimana pun tidak mudah mencari gedung sekolah dengan kapasitas murid lebih dari 1400, dan sesuai dengan standar yang ditentukan otoritas pendidikan setempat," ujar Abdullah menambahkan.

Bagi Abdullah dan pengelola SJI,  saat ini membangun gedung  sendiri adalah pilihan yang baik. Apalagi RI dan Saudi sudah memiliki hubungan baik sejak tahun 1950. Abdullah sangat berharap perhatian Mendikbud dan pemerintah RI, karena bagaimana pun situasi berdesak-desakan sangat tidak layak untuk kegiatan belajar, apalagi panas di Saudi saat ini mencapai 45' celcius.

"Selain itu, guru juga tidak memiliki ruangan yang nyaman dan layak, ekstra kurikuler tak bisa dijalankan, dan yang lebih menyedihkan, banyak orangtua yang terpaksa menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Selain biayanya sangat mahal, anak-anak itu juga bisa terputus sejarahnya dengan Tanah Air." 

Abdullah berharap situasi segera berakhir. Ia khawatir anak-anak itu akan kehilangan masa emas dalam periode hidup mereka.

(mus)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
<
TERPOPULER
TUTUP