TUTUP
TUTUP
DUNIA

Rusia Tuding Ukraina Gunakan Taktik Teror di Crimea

Presiden Petro Poroshenko membantah tuduhan itu.
Rusia Tuding Ukraina Gunakan Taktik Teror di Crimea
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko. (Reuters/Sergei Bondarenko)

VIVA.co.id - Presiden Rusia Vladimir Putin menuding Ukraina mencoba memprovokasi konflik baru dan menggoyahkan stabilitas di Crimea.

Pernyataan ini menyusul laporan Rusia yang mengklaim telah menggagalkan dua serangan bersenjata di wilayah yang pernah menjadi bagian dari Turki Utsmani.

"Para penguasa di Kiev (ibu kota Ukraina) telah menggunakan taktik teror untuk meningkatkan ketegangan, bukan menciptakan perdamaian," kata Putin, seperti dikutip dari Reuters, Kamis, 11 Agustus 2016.

Menurut Putin, upaya Kiev memprovokasi perpecahan tidak lain adalah keinginan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari permasalahan yang sebenarnya.

Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengatakan bahwa seorang anggotanya dan personel militer Rusia dinyatakan tewas saat bentrok di perbatasan Crimea akhir pekan lalu.

FSB berhasil menggagalkan upaya penyelundupan senjata oleh dua warga Ukraina ke Semenanjung Crimea, pada Sabtu 6 Agustus malam hingga Minggu 7 Agustus dini hari waktu setempat.

Mereka menemukan 20 bahan peledak, amunisi, ranjau, granat, dan senjata khusus yang hanya digunakan oleh pasukan khusus Ukraina.

Moskow juga mengaku telah membongkar jaringan mata-mata Ukraina dan Rusia di wilayah yang dicaplok pada 2014 itu.

Kemudian, pada Senin, 8 Agustus, Ukraina disebut berusaha memasukkan kembali dua kelompok untuk melakukan sabotase di Crimea. Namun, percobaan tersebut berhasil digagalkan.

Baku tembak sempat terjadi dengan pasukan Ukraina yang didukung oleh kendaraan lapis baja yang berusaha masuk Crimea. Imbas bentrokan tersebut, keamanan di Crimea ditingkatkan.

Menanggapi pernyataan Putin, Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyatakan tuduhan tersebut tak berdasar dan memprovokasi perang.

"Tuduhan Rusia terhadap Ukraina tidak masuk akal dan sinis," kata Poroshenko. (ase)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
<
TERPOPULER
TUTUP