TUTUP
TUTUP
DUNIA

Partai Sayap Kanan Jerman Serukan Migran Harus 'Dibuang'

Pulau Nauru dan Manus adalah tempat yang "layak" bagi pengungsi.
Partai Sayap Kanan Jerman Serukan Migran Harus 'Dibuang'
Frauke Petry (kiri) Ketua Partai AfD yang juga aktivis anti-imigran (Wolfgang Rattay/Reuters)

VIVA.co.id – Pemimpin partai sayap kanan Jerman, Alternatif untuk Jerman (AfD/Alternative fur Deutschland), Frauke Petry, menyerukan pencari suaka "dibuang" ke pulau-pulau di luar Eropa.

Ia juga mengusulkan transformasi Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi menjadi Kantor Federal untuk Emigrasi. Artinya, ini sama saja bahwa seluruh pencari suaka ilegal harus meninggalkan Jerman secepatnya.

"Migran dan pencari suaka yang aplikasinya ditolak akan ditampung di dua pulau di luar Eropa," kata Petry, tanpa mau menyebut nama pulau.

Melansir situs BBC, Minggu, 14 Agustus 2016, sejumlah media lokal Jerman percaya bahwa yang dimaksud "pulau-pulau di luar Eropa" adalah pulau di Pasifik seperti Nauru dan Manus.

Seperti diketahui, kedua pulau tersebut disewa Australia untuk menampung pencari suaka. Kedua pulau tersebut berjarak masing-masing 14 ribu kilometer (Nauru) dan dan 13.200 kilometer (Manus) dari Jerman.

Sebelumnya, Badan Pengungsi Jerman telah berjuang untuk mengatasi rekor jumlah pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah dan Irak.

Tahun lalu saja, pencari suaka yang masuk Jerman telah mencapai 1,1 juta jiwa. Partai AfD merupakan pendatang baru di belantika perpolitikan Jerman.

Meski baru, AfD langsung menyedot perhatian publik lantaran kebijakan kontroversialnya, di antaranya antimigran dan melarang Islam masuk Jerman.

Dalam manifestonya, Partai AfD mengedepankan bahwa 'Islam bukan bagian dari Jerman'. Hal ini untuk mementahkan pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel, yang mengatakan bahwa Islam bagian dari Jerman serta kebebasan beragama dijamin oleh konstitusi negara.

"Bentuk dan sikap ortodoks Islam tidak menghormati hukum dan budaya negara kita, dan bahkan menolak," bunyi manifesto AfD.

Tak hanya itu. Dalam manifesto ini juga disetujui pelarangan bagi pembangunan masjid, adzan dan pemakaian cadar. "Tidak ada tempat bagi Islam di Jerman," kata Petry.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
<
TERPOPULER
TUTUP