TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
DUNIA

The Berm, Pasir Tandus yang Dihuni 75 Ribu Pengungsi Suriah

"Ini bukti kegagalan dunia atas nasib pengungsi global."
The Berm, Pasir Tandus yang Dihuni 75 Ribu Pengungsi Suriah
Pengungsi dari Suriah menuju Yordania. (REUTERS.com)

VIVA.co.id – Selama lima tahun terakhir, Yordania menjadi salah satu negara penampung pengungsi terbesar bagi warga Suriah.

Hampir 700 ribu warga Suriah terdaftar sebagai pengungsi di negara yang berpenduduk 6,5 juta orang itu.

Para pejabat Yordania mengatakan, jumlah tersebut hanya menunjukkan mereka yang terdaftar sebagai pengungsi.

Namun, pada faktanya, terdapat lebih dari satu juta orang yang mengungsi di negeri yang pernah didiami mantan calon Presiden Indonesia, Prabowo Subianto itu.

Tahun lalu saja, ribuan pengungsi Suriah diperkirakan telah terperangkap di sebuah padang pasir tandus terisolasi, namun tak bertuan. Letaknya berada di antara wilayah Suriah dan Yordania, yang disebut sebagai "The Berm".

Pejabat setempat mengatakan bahwa saat ini terdapat 75 ribu orang yang terjebak di daerah tersebut. Namun, pihak berwenang Yordania menolak memberikan akses kepada jurnalis. Akses itu hanya diberikan kepada lembaga pemberi bantuan.

Seperti dilansir dari situs Washington Post, Kamis, 15 September 2016, sebuah laporan Amnesty International menunjukkan fakta betapa mengerikan situasi di The Berm.

Komplek pekuburan di The Berm, perbatasan Suriah-Yordania.

Kompleks pekuburan di The Berm dilihat dari foto satelit.

Dari pemantauan foto satelit dijelaskan bahwa tak hanya permukiman yang telah dibangun pengungsi, namun juga sederet makam telah berdiri di daratan pasir tersebut.

Laporan ini juga mengungkap pertumbuhan populasi yang semakin terisolasi dari bantuan makanan dan perawatan medis telah menciptakan masalah kesehatan yang sangat serius.

Kondisi inilah telah menimbulkan wabah penyakit hepatitis yang telah menewaskan sedikitnya 10 pengungsi, sebagian besar anak-anak, sejak awal Juni lalu.

"Situasi ini menjadi bukti bagaimana kegagalan dunia yang tidak bertanggung jawab atas krisis pengungsi global. Efek kegagalan ini juga menyebabkan banyak negara menutup perbatasannya atas pengungsi," kata Tirana Hassan, Direktur Respon Krisis Amnesty International.

Pemerintah Yordania pun mengakui situasi tragis ini dan mengaku telah memberlakukan kontrol ketat di perbatasan akibat adanya kekhawatiran terkait keamanan dari serangan kelompok ISIS.

Selain itu, terdapat ketegangan yang cukup besar bagi masyarakat Yordania itu sendiri, yakni banyaknya warga Suriah yang mengungsi menyebabkan ketidakstabilan perekonomian negara. (ase)

KOMENTARI ARTIKEL INI
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
<
TERPOPULER
TUTUP