DUNIA

Seks, Berlusconi, dan Ranjang Putin

Skandal politik dan seks Silvio Berlusconi jadi cerminan sifat munafik politisi di Italia
Kamis, 20 Agustus 2009
Oleh :
Arnold Cassola

VIVAnews - Skandal politik dan seks Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, tak lagi sekadar santapan tabloid namun telah menjadi berita utama di berbagai media di penjuru dunia. Cerita-cerita demikian memang tak lebih dari sekadar lucu-lucuan, namun bisa merusak Italia dan menghancurkan politik di negeri itu.

Kendati diserang berbagai skandal, "Il Silvio Nazionale" masih merupakan politisi yang paling populer dan tersukses (kendati sejumlah jajak pendapat akhir-akhir ini menunjukkan popularitas Berlusconi anjlok lebih dari 50% dan merupakan hasil terburuk pertama sejak dia kembali memangku jabatan perdana menteri pada 2008).

Salah satu alasan mengapa Berlusconi masih tetap malang melintang di tengah banyaknya batu sandungan adalah masih kuatnya pengaruh kultur di Italia. Seperti negara-negara Latin atau Mediterania yang kental dengan tradisi Katolik, bangsa Italia sejak dulu telah menerima dengan jelas hidup yang mendua.

Artinya, di satu sisi, mereka sangat terikat dengan nilai-nilai gereja dan keluarga, namun, di sisi lain - dan sering terlihat dengan jelas - mereka memiliki perempuan simpanan dan berperilaku menyimpang.

Saat ini, pimpinan politik Katolik di Italia sering menerapkan gaya hidup demikian. Pada tahun-tahun belakangan, di samping Berlusconi, sejumlah duda seperti Pemimpin Partai Katolik Pier Ferdinando Casini dan Ketua Parlemen Gianfranco Finni bisa dengan mudah melontarkan pidato yang memukau di pagi hari mengenai pentingnya keluarga yang tradisional dan kesucian pernikahan. Sorenya, mereka sempat beraudiensi dengan Paus, sebelum akhirnya bergegas menuju tempat tinggal pacar atau ibu dari anak-anak yang mereka hasilkan.     

Masyarakat di Italia secara diam-diam sudah memahfumi perilaku demikian, bahkan sudah mengaku secara terbuka dalam beberapa tahun terakhir. Ini berkat Berlusconi dan jaringan media yang dia miliki. Pada dekade 1970-an, ambisi utama rata-rata keluarga kelas pekerja di Italia adalah menyekolahkan anak mereka hinggga di perguruan tinggi dan berharap anak-anak bisa menjadi dokter atau pengacara.

Sejak akhir dekade 1970-an, dan terutama sepanjanga dekade 1980 dan 1990-an, tiga stasiun televisi swasta milik Berlusconi menayangkan model sukses yang salah dan ilusif - seperti yang terlihat di opera-opera sabun Amerika seperti "Dallas." Sejak dekade 1990-an, stasiun-stasiun televisi itu menayangkan acara seperti "Big Brother" dan beragam program reality show yang didominasi oleh para pelawak, manusia berotot, dan gadis-gadis cantik - yang dikenal sebagai "veline/velina."

Dalam kurun waktu 30 tahun, stasiun-stasiun televisi Berlusconi berhasil menanamkan potret kesuksesan yang ilusif itu kepada masyarakat di Italia. Kini, para ibu dari keluarga kelas pekerja di Italia mengharapkan anak-anak gadis mereka menjadi "velina," yang bisa menjadi bahan berita-berita gosip saat mereka berhasil menggoda para pria berotot yang berubah menjadi selebritas atau para pemain sepak bola yang bergaji besar. Menjadi dokter atau pengacara kini tak lagi menjadi tanda kesuksesan.

Kendati kurang berotot dan berambut minim, Berlusconi adalah perwujudan kesuksesan. Sempat menjadi penyanyi kabaret sebelum tampil menjadi salah satu pengusaha terkaya di dunia, Berlusconi pun berhasil menjadi politisi yang paling berkuasa di Italia sekaligu menjadi salah satu politisi yang penuh warna di dunia. Hingga beberapa pekan lalu, rata-rata warga Italia memandang dia sebagai model panutan, yang berhasil melewati berbagai tahapan hidup.

PM Italia, Silvio Berlusconi, dan istrinya, Veronica Lario

Silvio Berlusconi dan istrinya, Veronica Lario (AP Photo)


Kini, pandangan itu berubah. Rakyat telah menjadi kurang suka dengan Berlusconi karena kemunafikannya telah berjalan terlalu jauh. Mungkin sudah menjadi tren bagi seorang politisi Italia untuk memamerkan penampilannya yang macho. Namun, citra itu sudah sulit untuk dicerna saat si perdana menteri, di satu sisi, melancarkan kampanye memberantas pelacuran di jalanan, sementara dia sendiri tidur dengan perempuan bayaran.

Rakyat Italia pun tak lagi percaya saat Berlusconi mencalonkan perempuan-perempuan cantik - yang mungkin sudah menghabiskan waktu bersama dia di vila pribadi di Sardinia atau di Pallazo Roma - untuk menjadi kandidat anggota Parlemen Eropa beberapa waktu lalu.

Kini, tampak jelas bahwa Berlusconi tidak akan pernah terpilih menjadi Presiden Italia, posisi yang selalu dia cita-citakan. Selain itu, muncul berbagai rumor bahwa dia kini tengah diserang oleh para anggota partainya sendiri terkait dengan perilaku dia selama ini. Selain itu ada juga kabar bahwa Berlusconi akan dipaksa mundur sebagai perdana menteri di akhir tahun ini. 
 
Rumor-rumor demikian mungkin akan jadi kenyataan. Skandal yang kini menghangat adalah rekaman pembicaraan antara seorang perempuan bayaran dengan Berlusconi di vila pribadinya di Sardinia. Pembicaraan itu konon dilakukan di atas ranjang besar pemberian Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin. Kalau muncul cerita dia bakal jatuh, bermula dari ranjang pemberian Kremlin, tentu itu bukan epilog yang pernah ada di semua stasiun televisi Berlusconi.
 
Arnold Cassola adalah mantan Sekretaris Jenderal European Green Party dan mantan anggota Parlemen Italia. Tulisan ini disadur dari laman Project Syndicate dengan judul "Sex, Berlusconi, and Putin’s Bed." Artikel dalam bahasa Inggris bisa dilihat di laman Project Syndicate, www.project-syndicate.org

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found