TUTUP
TUTUP
DUNIA

Mengungkap Perusahaan Teknologi Korea Utara

Hanya Red Star OS dan Koryolink yang boleh beroperasi di Korut.
Mengungkap Perusahaan Teknologi Korea Utara
CEO Google memperhatikan warga Korea Utara memakai Internet. ( REUTERS/Kyodo)

VIVA.co.id – Meski berlabel negara miskin dan terisolasi, Korea Utara memiliki dua perusahaan teknologi, Red Star OS dan Koryolink.

Keduanya berdiri dan berkantor pusat di Pyongyang. Sementara itu, untuk telepon seluler (ponsel), produk China sebagai pilihan utama, lantaran harganya murah.

Maraknya warga Korea Utara membeli ponsel China, karena kedua negara memang bertetangga. Selain itu, untuk menghindari kontrol negara atas hak berbicara dan mengakses informasi dari dunia luar.

Kendati demikian, keberadaan dua perusahaan teknologi ini adalah jawaban Pyongyang yang melihat animo warganya yang jumlahnya semakin meningkat memakai ponsel maupun mengakses internet.

Mengutip situs Reuters, Kamis, 2 Maret 2017, pada 2015, jaringan ponsel resmi, Koryolink, diklaim memiliki sekitar tiga juta pelanggan dari negara yang total penduduknya berjumlah 24 juta jiwa itu.

Namun, sudah bisa ditebak, data dan angka terbaru belum dirilis oleh perusahaan gabungan dari VimpelCom Ltd milik Rusia dan Orascom Telecom Media and Technology Holding (OTMT) - milik Korea Post and Telecommunications Corporation (BUMN Korea Utara).

Koryolink, yang berdiri sejak 2008, merupakan operator ponsel satu-satunya berteknologi 3G di Korea Utara. Perusahaan ini menawarkan layanan di lima kota, selain Pyongyang, di Korea Utara serta mengelola delapan jalan raya dan rel kereta api.

Meskipun jaringan 3G, tidak ada akses internet - hanya akses intranet - itu pun pengguna domestik hingga April 2014. Khusus warga asing, akses internet mobile baru bisa digunakan pada 26 Februari 2013.

Namun, kondisi itu hanya bertahan sebentar. Sebab, tanpa alasan yang jelas, pada 29 Maret 2013, Koryolink membatasi layanan internet untuk warga asing.

Selain itu, ada sistem jaringan komputer bernama Red Star OS. Perusahaan ini lebih dahulu berdiri pada 1998, dan mengoperasikan sistem Linux.

Sebelum ada Red Star, seluruh komputer di Korea Utara memakai sistem Ubuntu. Pada 2013, Red Star meng-upgrade sistemnya menjadi versi 3.0.

Awalnya, keberadaan peranti lunak ini dirahasiakan. Hingga akhirnya seorang mahasiswa asal Rusia yang berkuliah di Universitas Kim Il-sung mengungkap keberadaan Red Star di internet.

Pada intinya, keberadaan dua perusahaan teknologi ini, selain mempermudah komunikasi dan mengakses informasi, diduga bertujuan untuk mematai-matai warga oleh rezim Kim Jong-un. 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP