TUTUP
TUTUP
DUNIA

Hari Ini Timor Leste Memilih Presiden

Kandidat harus menang 50 persen, agar tak terjadi pemilu dua putaran.
Hari Ini Timor Leste Memilih Presiden
Warga Timor Leste antri menunggu giliran di sejumlah TPS, Senin, 20 Maret 2017. (REUTERS/Lirio da Fonseca)

VIVA.co.id – Negara yang bertetangga dekat dengan Indonesia, Timor Leste, hari ini melaksanakan pemilihan presiden. Ada tujuh kandidat calon presiden bagi warga di negara dengan penduduk sekitar 1,2 juta orang tersebut.

Salah satu kandidatnya adalah Francisco "Lu Olo" Guterres. Pria yang sudah sempat mencalonkan diri ini mendapat dukungan Fretilin, partai independen yang selama ini memimpin pembebasan Timor Leste dari Indonesia. Sejauh ini, Lu Olo disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. Ia juga mendapat dukungan dari Xanana Gusmao dan partai CNRT yang dipimpinnya.

Sejauh ini, Lu Olo, alias Guterres merasa berada di atas angin. "Saya yakin menang, tak akan ada putaran kedua," ujarnya, seperti diberitakan Reuters, 20 Maret 2017.

"Saya ingin mengubah kondisi masyarakat dalam segala aspek seperti dalam perawatan kesehatan, pendidikan, dan kehidupan ekonomi yang berkelanjutan," kata Guterres, setelah memberikan suaranya di Ibu kota Dili.

Sesuai aturan yang berlaku di Timor Leste, seorang kandidat presiden harus meraih 50 persen suara pemilih untuk menghindari pilpres tahap kedua yang akan diadakan pada April.

Sejumlah analis mengatakan, tantangan bagi presiden baru Timor Leste adalah mengurangi ketergantungan pada minyak dan mulai melakukan diversifikasi sumber pendapatan dalam pertanian dan manufaktur. Sektor energi menyumbang sekitar 60 persen dari PDB pada 2014, dan lebih dari 90 persen dari pendapatan pemerintah.

Timor Leste sebelumnya bernama Timor Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia. Namun, melalui referendum pada 2002, provinsi tersebut melepaskan diri dan menjadi negara sendiri dengan nama Timor Leste.

Pemimpin gerilyawan Xanana Gusmao menjadi Presiden pertama Timor Leste. Pemilu hari ini adalah pemilu yang pertama digelar pasukan perdamaian PBB meninggalkan negara tersebut pada 2012. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP