Kapal Induk AS Berlayar ke Semenanjung Korea Hoax?

Kapal Induk Amerika Serikat, USS Nimitz.
Sumber :
  • REUTERS

VIVA.co.id – Kabar gugus tempur armada kapal induk Carl Vinson (CVN-70) menuju Semenanjung Korea ternyata bohong (hoax).

8 Aturan Aneh yang Harus Dituruti Istri Kim Jong-un, Ri Sol-ju

Menurut Koresponden BBC untuk Korea, Stephen Evans, armada perang AS itu tidak berlayar menuju Korea Utara, melainkan ke arah yang berlawanan.

Berdasarkan sumber di Departemen Pertahanan AS (Pentagon), Carl Vinson justru berlayar ke Samudera Hindia dan diperkirakan menuju Australia.

Korut Rayakan Ulang Tahun ke-80 Kim Jong Il Tanpa Parade Militer

Tidak jelas apakah ini disengaja yang dirancang untuk menakut-nakuti Korea Utara, atau memang ada perubahan rencana sehingga terjadi miskomunikasi.

"Ini aneh. Apakah pembatalan pengiriman armada tempur ini memang disengaja atau tiba-tiba ada perubahan rencana," kata Evans, seperti dikutip situs BBC, Rabu, 19 April 2017.

Donald Trump Ambil Surat Cinta Kim Jong Un dari Gedung Putih

Namun, belum ada pernyataan resmi dari Komando Armada Pasifik AS (USPACOM) yang merupakan markas dari Carl Vinson.

Padahal sebelumnya, Juru Bicara USPACOM, Dave Benham mengatakan, armada perangnya sedang menuju semenanjung untuk memberikan tekanan terhadap Korea Utara.

"Mereka (Korea Utara) terus menjadi ancaman nomor satu terkait program uji coba rudal mereka yang gegabah, tidak bertanggung jawab dan mengakibatkan ketidastabilan kawasan. Mereka tetap ngotot mengejar kemampuan senjata nuklir," kata Benham.

Pada Sabtu, 15 April lalu, Carl Vinson terlihat melewati Selat Sunda, Indonesia. Sejatinya, mereka berlayar ke Australia, namun berbelok arah dari Singapura kemudian ke Pasifik Barat.

Carl Vinson dikawal oleh dua kapal perusak, USS Wayne E. Meyer dan USS Michael Murphy, dua kapal selam, serta kapal penjelajah USS Lake Champlain.

Meski begitu, Pyongyang tidak gentar dengan ancaman AS. Mereka mengatakan bakal menguji coba rudal setiap minggu, sebagai peringatan untuk "perang habis-habisan" jika AS mengambil serangan militer.

"Jika AS ingin menyerang maka kami akan bereaksi dengan serangan nuklir," kata Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Han Song-ryol.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya